Untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan para wisatawan, para
penyelamat wisata pantai (lifeguard) di Kabupaten Banyuwangi
ditingkatkan kompetensinya. Sebanyak 25 lifeguard yang bertugas di
pantai-pantai yang ada di kabupaten berjuluk "The Sunrise of Jva" itu
baru saja dipilih untuk menjalani pelatihan khusus.
"Pekan lalu baru saja selesai kami latih khusus bersinergi dengan
Kementerian Pariwisata. Instrukturnya juga sangat berkompeten," ujar Plt
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, MY Bramuda.
Bramuda mengatakan, para lifeguard yang dilatih adalah mereka yang
biasa bertugas di pantai-pantai di Banyuwangi. Selain itu, dari sejumlah
sungai yang dikembangkan menjadi destinasi arung jeram. Di antaranya
dari operator wisata Bangsring Boat, Pantai Boom, Waduk Sidodadi,
Bangsring Underwater, Sungai Badeng, Pantai Mustika, Teluk Banyu Biru,
dan wisata Mangrove Bedul.
Peningkatan kompetensi ini diharapkan dapat mendongkrak kualitas
pelayanan di destinasi wisata pantai. Semakin lifeguard terlatih dan
kian kompeten, mereka bisa dengan sigap melaksanakan tugas penyelamatan
jika ada kejadian yang tidak diinginkan.
"Ini bagian dari upaya kami memberi kenyamanan kepada wisatawan.
Berwisata di pantai-pantai yang ada di Banyuwangi untuk senang-senang
sekaligus nyaman dan aman," kata Bramuda.
Bramuda merinci, para lifeguard itu dilatih tentang penanganan korban
tenggelam, menangani korban yang terkena sengatan ubur-ubur, dan
jenis-jenis penyelamatan lainnya. Mereka juga dibekali teknik diving,
snorkeling, hingga penggunaan speed boat.
"Peningkatan kompetensi semacam ini masih terus kami lakukan. Juga
akan ada sertifikasi. Dua bulan ke depan ada seratus pelaku pariwisata
di Banyuwangi yang bakal mulai dididik Sekolah Tinggi Pariwisata Bali.
SDM adalah penunjang sektor pariwisata selain kekayaan alam dan budaya.
Jadi masalah SDM pariwisata ini juga perlu diperhatikan," pungkas
Bramuda. (Humas)
Kamis, 03 Maret 2016
Selasa, 01 Maret 2016
Green Architecture Bandara Blimbingsari Diapresiasi BKSAP
Arsitektur Bandara Blimbingsari yang sedang dalam proses pembangunan
mengundang apresiasi Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI.
Konsep green architectur (arsitektur hijau) yang diusung
Bandara Blimbingsari dinilai sebagai bentuk dari pembangunan
berkelanjutan. BKSAP sengaja datang ke Banyuwangi untuk melihat program
pemerintah daerah yang sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2015-2030 yang dicanangkan
PBB.
Ditemani Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, rombongan BKSAP terjun langsung memantau progres pembangunan terminal VIP Bandara Blimbingsari. Bangunan rancangan arsitek Andra Matin tersebut, mengedepankan penggunaan energi sehemat mungkin. Menurut Anas, bandara ini ke depannya akan meminimalisir penggunaan AC dan lampu di siang hari. "Sengaja kami memakai kayu ulin sebagai sekat sehingga angin dan cahaya bisa masuk. Jadi, bisa menghemat penggunaan AC dan lampu. Kira-kira begitu," papar Anas.
Bandara Blimbingsari nantinya akan dihiasi dengan tumbuhan hijau dan kolam-kolam ikan. Tumbuhan hijaunya tidak hanya berada dibagian dalam saja, namun atap yang berbentuk setengah atap rumah adat Osing, juga dihiasi dengan rumput-rumput hijau.
Inovasi infrastruktur yang hijau dan hemat energi pada pembangunan Bandara Blimbingsari, menurut Sarwo Budi Wuryanti, salah satu anggota BKSAP, telah sesuai dengan tujuan dari pembangunan berkelanjutan. "Konsep bandara yang hijau dan hemat energi seperti ini, telah sesuai dengan 17 tujuan SDGs. Yang mana salah satunya adalah inovasi infrastruktur," tuturnya.
Pembangunan Bandara Blimbingsari tidak hanya mengusung konsep hijau dan hemat energi namun juga menghemat biaya. Anas menuturkan bahwa pembangunan bandara andalan masyarakat Banyuwangi tersebut hanya menelan Rp 45 M. "Kita membangun ini hanya menggunakan dana APBD sebesar Rp 45 M. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan pembangunan bandara-bandara di kota lain yang sampai ratusan milyar," beber Anas. (Humas & Protokol)
Ditemani Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, rombongan BKSAP terjun langsung memantau progres pembangunan terminal VIP Bandara Blimbingsari. Bangunan rancangan arsitek Andra Matin tersebut, mengedepankan penggunaan energi sehemat mungkin. Menurut Anas, bandara ini ke depannya akan meminimalisir penggunaan AC dan lampu di siang hari. "Sengaja kami memakai kayu ulin sebagai sekat sehingga angin dan cahaya bisa masuk. Jadi, bisa menghemat penggunaan AC dan lampu. Kira-kira begitu," papar Anas.
Bandara Blimbingsari nantinya akan dihiasi dengan tumbuhan hijau dan kolam-kolam ikan. Tumbuhan hijaunya tidak hanya berada dibagian dalam saja, namun atap yang berbentuk setengah atap rumah adat Osing, juga dihiasi dengan rumput-rumput hijau.
Inovasi infrastruktur yang hijau dan hemat energi pada pembangunan Bandara Blimbingsari, menurut Sarwo Budi Wuryanti, salah satu anggota BKSAP, telah sesuai dengan tujuan dari pembangunan berkelanjutan. "Konsep bandara yang hijau dan hemat energi seperti ini, telah sesuai dengan 17 tujuan SDGs. Yang mana salah satunya adalah inovasi infrastruktur," tuturnya.
Pembangunan Bandara Blimbingsari tidak hanya mengusung konsep hijau dan hemat energi namun juga menghemat biaya. Anas menuturkan bahwa pembangunan bandara andalan masyarakat Banyuwangi tersebut hanya menelan Rp 45 M. "Kita membangun ini hanya menggunakan dana APBD sebesar Rp 45 M. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan pembangunan bandara-bandara di kota lain yang sampai ratusan milyar," beber Anas. (Humas & Protokol)
Kunjungi Banyuwangi, BKSAP DPR RI Nilai Wisata Banyuwangi Sudah Sustainable
Hari
kedua kunjungan ke Banyuwangi (1/3) Panitia Kerja Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) dari Badan Kerjasama Antar
Parlemen (BKSAP) DPR RI menyempatkan untuk datang ke Bangsring
Underweter. Di tempat wisata yang sedang naik daun tersebut, rombongan
BKSAP memastikan pengelolaan pariwisata mengusung koonsep (berkelanjutan).
Video Rumah Apung =https://www.youtube.com/watch?v=TqlucustSGI
Ikhwan
Arif, perintis Bangsring Underwater, memaparkan pengembangan kawasan di
Bangsring fini mengedepankan pelestarian alam. Dituturkannya, awalnya
terumbu karang di pesisir Pantai Bangsring sering kali di bom oleh
nelayan untuk mencari ikan.
Kondisi
terumbu yang rusak parah ini akhirnya menggugah para nelayan. Sejumlah
nelayan yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Samudera Bhakti mulai
menanam ulang terumbu karang. Mereka mulai sadar, terumbu yang rusak
otomatis merusak habitat ikan sehingga ikan pun menjadi jarang.
Terumbu
karang yang mulai tumbuh ini ternyata menjadi inspirasi bagi mereka
untuk dijadikan sebagai daya tarik wisatawan. Lantas, kelompok nelayan
tadi mendirikan Bangsring Underwater sebagai brand tempat wisata
tersebut. Awalnya Bangsring Underwater hanya menyediakan alat snorkeling
dan rumah apung.
Mengalami
perkembangan pesat, Bangsring Underwater pun melibatkan anggota yang
lebih luas dengan membuka penyewaan perahu ke Pulau Tabuhan serta
beberapa wahana permainan air, seperti kano, warung, parkir dan kamar
mandi juga disiapkan. "Di sini para wisatawan juga bisa berenang dengan
hiu-hiu kecil yang senagaja kami tangkarkan. Menambah nikmatya berwisata
ke Banyuwangi. Ke depannya, kita akan mengembangankan pengenipan dan
wisata khusus yang lebih privat," paparnya.
Sementara
itu, Sareh Wiyono, anggota rombongan BKSAP, mengapresiasi keberadaan
Bangsring Underwater. "Saya kira, tempat ini potensial. Mengelola alam
sebagai dsetinasi wisata," ungkapnya.
Terkait
dengan misi SDGs, Sareh menilai pola pengembangan pariwisata di
Banyuwangi pada umumnya, sudah sesuai dengan konsep SDGs. "Keterlibatan
masyarakat secara langsung dan mengedepankan pelestarian lingkungan ini
penting. Sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan," tukasnya.
(Humas Protokol)
Badan Antar Parlemen DPR RI Kunjungi Banyuwangi
10 anggota Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI,
mengunjungi Banyuwangi. Kedatangan anggota DPR dari sejumlah fraksi ini,
Senin (29/2) ini untuk menjalin aspirasi daerah sekaligus ingin melihat
langsung sejumlah progress pembangunan yang dilakukan kabupaten
berjuluk The Sunrise of Java ini.
Mengapa pilih Banyuwangi? Banyuwangi di mata para wakil rakyat ini, adalah daerah yang mampu menunjukkan kinerja dan prestasinya. "Banyuwangi bukan capital city (ibu kota provinsi-red), namun perkembangannya sangat cepat. Ini yang menginspirasi kami datang ke sini,” ungkap Nurhayati Ali Asegaf, ketua rombongan DPR RI, di Aula Rempeg, Kantor Pemkab Banyuwangi.
BKSAP adalah Badan Kerja Sama Antar-Parlemen, yang dibentuk oleh DPR dan merupakan alat kelengkapan DPR yang bersifat tetap yang anggotanya terdiri dari tiap-tiap fraksi di parlemen. Selain Nurhayati, sejumlah politiai yang turut hadir adalah Rofi Munawar (PKS), Sarwo Budi W (PDIP), Saleh Wiyono (Gerindra), Heri Gunawan (Gerindra), M Syarifudin (PAN), Siti Masrifah (PKB), Kartika Yudhisti (PPP), Hamdhani (Nasdem) dan M Arief Suditomo (Hanura).
Dikatakan Nurhayati, Banyuwangi telah membuat inovasi di berbagai bidang peningkatan kesejahteraan warga. Mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, layanan publik, tata kelola pemerintahan, tata ruang, hingga insfrastruktur.
"Bahkan program program lainnya sangat inspiratif. Sebuy saja Sedekah Oksigen, Jeding Rijig hingga pengembangan pariwisata yang melibatkan langsung masyarakat. Ini sangat baik untuk ditularkan ke daerah lain. Bisa jadi contoh bagi yang lain,” ujarnya.
Bahkan, kata politisi Demokrat ini, pembangunan yang dilakukan Banyuwangi ini bisa menjadi contoh model pembangunan yang bottom up, membangun dr bawah.
“Saya melihat semua progres pembangunan di Banyuwangi ini juga dilaksanakan secara transparasi, akuntabel. Kami yakin pula ini yang membuat pembangunan di sini mendapat dukungan dan kepercayaan dari masyarakat,” ujarnya.
Para anggota DPR RI sempat mengunjungi lounge pelayanan publik yang berada di kantor Pemkab Banyuwangi. Lounge ini merupakan ruang tunggu pelayanan publik yang eksklusif dan nyaman. Di sini semua pengunjung bisa mengakses berbagai data di semua SKPD di lingkungan Pemkab Banyuwangi. Di dalam ruang lounge tersebut disediakan empat layar komputer besar yang tersambung dengan internet. Di dalamnya terdapat berbagai data seputar kinerja SKPD maupun laporan APBD daerah yang bisa diakses dengan mudah. Di situ juga terpasang kamera CCTV yang memantau sejumlah aktivitas di kantor pelayanan publik di seluruh Banyuwangi.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, menyampaikan sejumlah capaian kinerja pemerintahannya. Di antaranya, penurunan angka keimiskinan Banyuwangi, yang pada 2010 mencapai 40 persen, dan dalam kurun lima tahun menyusut menjadi 9,3 persen.
Selain itu pendapatan perkapita penduduk Banyuwangi dari Rp 14,7 juta per orang per tahun, akhirnya menyalip kota-kota besar di Jawa Timur. Akhir 2015 in come perkapita Banyuwangi meningkat jadi Rp 33,7 juta.
“Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi Banyuwangi dalam lima tahun tahun terakhir tercatat lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan Jawa Timur. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, rata-rata pertumbuhan Banyuwangi 2010-2014 sebesar 6,59 persen. Ini semua tak lepas dari upaya pemerintah daerah yang terus memproteksi pedagang lokal dan melarang pasar moderen seperti alfamart dan indomart ada di Banyuwangi. Sehingga usaha para pedaganh kecil ini masih hidup, tidak terberangus ritel besar ,” ujar Bupati Anas saat menerima rombongan ini.
Selain itu, lanjut Bupati Anas, tentunya juga infrastruktur, mulai jalan, rumah sakit, air hingga insfrakstruktur bandara yang telah di bangun pemerintah daerah sebagai inovasi pelayanan publik. Tak ketinggalan membangun pariwisata ecotourism yang mampu mengantarkan Banyuwangi meraih sejumlah penghargaan bergensi dari dunia internasional.
“Bagi Banyuwangi pariwisata tak semata membangun obyek wisata, namun lebih pada konsolidasi behavior masyarakat kepada lingkungan dan orang yang datang,” ujar Bupati Anas.
Setelah melihat sejumlah layanan publik, mereka mengaku sangat mengapresiasi hasil pembangunan Banyuwangi. Mereka pun berjanji akan terus mendukung segala pembangunan insfrastruktur yang belum tuntas. Bahkan, mereka berencana untuk ikut memperbesar pelayanan bandara Blimbingsari.
“Saya melihat Banyuwangi ini sangat hebat, perlu saya komunikasikan dengan angkasa pura untuk ikut bantu service atau penambahan penerbangan. Karena saya lihat okupansin penumpang yang ingin ke Banyuwangi cukup banyak,” pungkas Nurhayati mengakjiri kunjungannya. (Humas)
Mengapa pilih Banyuwangi? Banyuwangi di mata para wakil rakyat ini, adalah daerah yang mampu menunjukkan kinerja dan prestasinya. "Banyuwangi bukan capital city (ibu kota provinsi-red), namun perkembangannya sangat cepat. Ini yang menginspirasi kami datang ke sini,” ungkap Nurhayati Ali Asegaf, ketua rombongan DPR RI, di Aula Rempeg, Kantor Pemkab Banyuwangi.
BKSAP adalah Badan Kerja Sama Antar-Parlemen, yang dibentuk oleh DPR dan merupakan alat kelengkapan DPR yang bersifat tetap yang anggotanya terdiri dari tiap-tiap fraksi di parlemen. Selain Nurhayati, sejumlah politiai yang turut hadir adalah Rofi Munawar (PKS), Sarwo Budi W (PDIP), Saleh Wiyono (Gerindra), Heri Gunawan (Gerindra), M Syarifudin (PAN), Siti Masrifah (PKB), Kartika Yudhisti (PPP), Hamdhani (Nasdem) dan M Arief Suditomo (Hanura).
Dikatakan Nurhayati, Banyuwangi telah membuat inovasi di berbagai bidang peningkatan kesejahteraan warga. Mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, layanan publik, tata kelola pemerintahan, tata ruang, hingga insfrastruktur.
"Bahkan program program lainnya sangat inspiratif. Sebuy saja Sedekah Oksigen, Jeding Rijig hingga pengembangan pariwisata yang melibatkan langsung masyarakat. Ini sangat baik untuk ditularkan ke daerah lain. Bisa jadi contoh bagi yang lain,” ujarnya.
Bahkan, kata politisi Demokrat ini, pembangunan yang dilakukan Banyuwangi ini bisa menjadi contoh model pembangunan yang bottom up, membangun dr bawah.
“Saya melihat semua progres pembangunan di Banyuwangi ini juga dilaksanakan secara transparasi, akuntabel. Kami yakin pula ini yang membuat pembangunan di sini mendapat dukungan dan kepercayaan dari masyarakat,” ujarnya.
Para anggota DPR RI sempat mengunjungi lounge pelayanan publik yang berada di kantor Pemkab Banyuwangi. Lounge ini merupakan ruang tunggu pelayanan publik yang eksklusif dan nyaman. Di sini semua pengunjung bisa mengakses berbagai data di semua SKPD di lingkungan Pemkab Banyuwangi. Di dalam ruang lounge tersebut disediakan empat layar komputer besar yang tersambung dengan internet. Di dalamnya terdapat berbagai data seputar kinerja SKPD maupun laporan APBD daerah yang bisa diakses dengan mudah. Di situ juga terpasang kamera CCTV yang memantau sejumlah aktivitas di kantor pelayanan publik di seluruh Banyuwangi.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, menyampaikan sejumlah capaian kinerja pemerintahannya. Di antaranya, penurunan angka keimiskinan Banyuwangi, yang pada 2010 mencapai 40 persen, dan dalam kurun lima tahun menyusut menjadi 9,3 persen.
Selain itu pendapatan perkapita penduduk Banyuwangi dari Rp 14,7 juta per orang per tahun, akhirnya menyalip kota-kota besar di Jawa Timur. Akhir 2015 in come perkapita Banyuwangi meningkat jadi Rp 33,7 juta.
“Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi Banyuwangi dalam lima tahun tahun terakhir tercatat lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan Jawa Timur. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, rata-rata pertumbuhan Banyuwangi 2010-2014 sebesar 6,59 persen. Ini semua tak lepas dari upaya pemerintah daerah yang terus memproteksi pedagang lokal dan melarang pasar moderen seperti alfamart dan indomart ada di Banyuwangi. Sehingga usaha para pedaganh kecil ini masih hidup, tidak terberangus ritel besar ,” ujar Bupati Anas saat menerima rombongan ini.
Selain itu, lanjut Bupati Anas, tentunya juga infrastruktur, mulai jalan, rumah sakit, air hingga insfrakstruktur bandara yang telah di bangun pemerintah daerah sebagai inovasi pelayanan publik. Tak ketinggalan membangun pariwisata ecotourism yang mampu mengantarkan Banyuwangi meraih sejumlah penghargaan bergensi dari dunia internasional.
“Bagi Banyuwangi pariwisata tak semata membangun obyek wisata, namun lebih pada konsolidasi behavior masyarakat kepada lingkungan dan orang yang datang,” ujar Bupati Anas.
Setelah melihat sejumlah layanan publik, mereka mengaku sangat mengapresiasi hasil pembangunan Banyuwangi. Mereka pun berjanji akan terus mendukung segala pembangunan insfrastruktur yang belum tuntas. Bahkan, mereka berencana untuk ikut memperbesar pelayanan bandara Blimbingsari.
“Saya melihat Banyuwangi ini sangat hebat, perlu saya komunikasikan dengan angkasa pura untuk ikut bantu service atau penambahan penerbangan. Karena saya lihat okupansin penumpang yang ingin ke Banyuwangi cukup banyak,” pungkas Nurhayati mengakjiri kunjungannya. (Humas)
189 Desa di Banyuwangi Telah Terapkan E-Village Budgeting
Penggunaan instrumen teknologi informasi sebagai pilar pendukung
pelayanan publik terus dipacu Pemerintah Kabupaten Banyuwangi hingga ke
pemerintahan desa. Sebanyak 189 desa atau seluruh desa di Banyuwangi
telah menerapkan sistem sistem penganggaran desa terintegrasi dalam
jaringan (daring) alias online atau yang diberi nama e-Village
Budgeting.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menuturkan, e-Village Budgeting adalah program untuk menuju transparansi penganggaran dan monitoring pembangunan di pelosok desa. Sistem ini ke depan bakal menyinergikan keuangan dan pembangunan di tingkat desa dengan kabupaten, sehingga tercipta keselarasan. Sistem ini sekaligus untuk memberi perlindungan bagi perangkat desa agar dalam pemanfaatan anggarannya bisa efektif dan sesuai aturan.
”Alhamdulillah, sejak diterapkan tahun lalu dengan segala trial and error-nya, kini penerapan e-village budgeting semakin rapi. Ada satu atau dua kendala, itu wajar karena kita semua sama-sama belajar. Kita terus benahi dan sempurnakan,” ujar Anas.
Anas mengatakan, penerapan e-village budgeting membutuhkan kesiapan perangkat desa. Oleh karena itu, para bendahara desa dan operator sistem ini terus ditingkatkan kapasitasnya. ”Akhir pekan lalu, para bendahara desa dan operator sistem ini di-update lagi kemampuannya di Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD). Saya kunjungi mereka. Saya lihat mereka sangat bersemangat, meski sistem ini menggiring kita pada hal-hal baru di luar kebiasaan. Meski seharian kucel memelototi sistem ini agar lancar, mereka tetap antusias,” kata Anas.
Rohman, Sekretaris Desa Temurejo, mengatakan, sistem e-village budgeting memudahkan pengelolaan keuangan desa. ”Sangat memudahkan dalam mengatur keuangan. Tidak perlu manual. Kami juga merasa lebih nyaman. Semuanya jadi transparan dan terkontrol,” kata dia.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo, mengatakan, e-Village Budgeting di Banyuwangi terdiri atas tiga bagian, yaitu perencanaan, tata kelola, dan evaluasi. Sistem ini memangkas mata rantai penyusunan anggaran secara manual di level desa. Melalui cara ini, pencairan anggaran juga mudah terpantau. ”Pencairan anggaran terkontrol. Setiap dana turun, langsung disinkronkan. Kegiatan yang ada juga tersusun rapi sesuai rencana dan anggaran. Jika program belum tuntas tidak bisa dicairkan. Ini bisa mengantisipasi penyimpangan sekaligus ini ikhtiar memberi perlindungan bagi perangkat desa mengingat anggarannya besar,” ujar Yayan, sapaan akrab Suyanto.
Untuk memperkuat pengawasan program, Banyuwangi juga merancang e-Village Monitoring. Sistem ini difungsikan untuk mengawasi program pembangunan di desa, baik program fisik maupun non-fisik. ”Secara bertahap ini akan dibenahi. Kami juga sedang siapkan semua desa di Banyuwangi akan memiliki website yang berisi potensi UMKM, wisata, dan sebagainya, termasuk pelayanan publiknya,” ujar Yayan. (Humas & Protokol)
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menuturkan, e-Village Budgeting adalah program untuk menuju transparansi penganggaran dan monitoring pembangunan di pelosok desa. Sistem ini ke depan bakal menyinergikan keuangan dan pembangunan di tingkat desa dengan kabupaten, sehingga tercipta keselarasan. Sistem ini sekaligus untuk memberi perlindungan bagi perangkat desa agar dalam pemanfaatan anggarannya bisa efektif dan sesuai aturan.
”Alhamdulillah, sejak diterapkan tahun lalu dengan segala trial and error-nya, kini penerapan e-village budgeting semakin rapi. Ada satu atau dua kendala, itu wajar karena kita semua sama-sama belajar. Kita terus benahi dan sempurnakan,” ujar Anas.
Anas mengatakan, penerapan e-village budgeting membutuhkan kesiapan perangkat desa. Oleh karena itu, para bendahara desa dan operator sistem ini terus ditingkatkan kapasitasnya. ”Akhir pekan lalu, para bendahara desa dan operator sistem ini di-update lagi kemampuannya di Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD). Saya kunjungi mereka. Saya lihat mereka sangat bersemangat, meski sistem ini menggiring kita pada hal-hal baru di luar kebiasaan. Meski seharian kucel memelototi sistem ini agar lancar, mereka tetap antusias,” kata Anas.
Rohman, Sekretaris Desa Temurejo, mengatakan, sistem e-village budgeting memudahkan pengelolaan keuangan desa. ”Sangat memudahkan dalam mengatur keuangan. Tidak perlu manual. Kami juga merasa lebih nyaman. Semuanya jadi transparan dan terkontrol,” kata dia.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo, mengatakan, e-Village Budgeting di Banyuwangi terdiri atas tiga bagian, yaitu perencanaan, tata kelola, dan evaluasi. Sistem ini memangkas mata rantai penyusunan anggaran secara manual di level desa. Melalui cara ini, pencairan anggaran juga mudah terpantau. ”Pencairan anggaran terkontrol. Setiap dana turun, langsung disinkronkan. Kegiatan yang ada juga tersusun rapi sesuai rencana dan anggaran. Jika program belum tuntas tidak bisa dicairkan. Ini bisa mengantisipasi penyimpangan sekaligus ini ikhtiar memberi perlindungan bagi perangkat desa mengingat anggarannya besar,” ujar Yayan, sapaan akrab Suyanto.
Untuk memperkuat pengawasan program, Banyuwangi juga merancang e-Village Monitoring. Sistem ini difungsikan untuk mengawasi program pembangunan di desa, baik program fisik maupun non-fisik. ”Secara bertahap ini akan dibenahi. Kami juga sedang siapkan semua desa di Banyuwangi akan memiliki website yang berisi potensi UMKM, wisata, dan sebagainya, termasuk pelayanan publiknya,” ujar Yayan. (Humas & Protokol)
Bupati Beri Acungan Jempol Kiprah Muhammadiyah Dukung Pembangunan Banyuwangi
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas memberikan acungan jempol atas
kiprah Muhammadiyah dalam mendukung pembangunan di Banyuwangi. Hal itu
disampaikannya saat penyelenggaraan opening ceremony Musyawarah Daerah
(Musda) ke XII Muhammadiyah yang diselenggarakan di halaman Masjid Besar
KH Ahmad Dahlan Banyuwangi, Minggu (28/2).
“Muhammadiyah ini punya peran penting dalam mewujudkan Banyuwangi yang lebih baik. Pemerintah Daerah ini tangannya terbatas. Tidak mungkin segala sesuatu kita kerjakan sendiri tanpa dibantu pihak lain,” kata Anas sambil menyebut upaya Muhammadiyah membangun sekolah- sekolah untuk meningkatkan kualitas SDM dan rumah sakit untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Termasuk juga beberapa organisasi otonom Muhammadiyah seperti Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang dikatakannya telah berkontribusi positif bagi perkembangan Banyuwangi.
Anas terus mendorong agar Muhammadiyah tak henti menelurkan ide-ide dan sumbangsihnya demi kemajuan Banyuwangi. “Tantangan kita ke depan ada dua. Yakni tantangan global dan daerah. Kalau tantangan daerah, kita dituntut menuntaskan masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial. Langkah yang saya ambil untuk menurunkan kemiskinan adalah seluruh SKPD harus bekerja sama lintas sektoral. Dan untuk ketimpangan sosial, disparitas wilayah kita atasi dengan memperbaiki infrastruktur. Sementara untuk tantangan global kita dituntut untuk mampu terkoneksi dengan dunia global lewat penguasaan Information Technology (IT). Karena itu saya berpesan kepada sekolah-sekolah Muhammadiyah, agar pendidikan IT terus diberikan ,” beber Anas.
Dalam acara yang dihadiri ribuan jamaah Muhammadiyah itu, dilakukan pula Launching Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Banyuwangi. IMM Cabang Banyuwangi yang baru saja terbentuk merupakan IMM ke 25 se-Kabupaten/Kota di Jawa Timur. IMM Banyuwangi periode 2016-2017 ini diketuai Ahmad Nasikin.
Selain Launching IMM, ada juga penandatanganan prasasti oleh Ketua PP Muhammadiyah Pusat, Prof.Dr. H. Syafiq Mughni, MA didampingi Thohir Luth, Wakil Ketua DPW PAN Jatim dan Bupati Anas. Terdapat 5 prasasti sekaligus yang ditandatangani antara lain prasasti Pusat Dakwah Muhammadiyah Banyuwangi Masjid Besar KH. A. Dahlan; Masjid Al-Ihsan Kalibaru; Masjid Darus Sholah, Banjarsari- Glagah; Laboratorium komputer SMK Muhammadiyah Glenmore dan Gedung At-Taqwa, Pakis Duren-Banyuwangi.
Untuk diketahui, komitmen Muhammadiyah Banyuwangi untuk mencerdaskan bangsa diwujudkan dengan membangun 42 sekolah mulai tingkatan SD hingga SMA/SMK. Total 12.350 siswa yang menuntut ilmu disana. Sedangkan untuk tingkat PAUD dan TK terdapat 59 sekolah dengan jumlah siswa mencapai 5000 anak.
Muhammadiyah juga punya 3 sekolah rujukan yang sering dijadikan jujugan sekolah lain untuk belajar. Satu diantaranya adalah SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi yang punya jaringan kerjasama permagangan nasional dan internasional. Sekolah ini juga punya program studi Teknik Komputer Jaringan, Perakitan Laptop, Wajan Bolik (antena yang terbuat dari bahan dasar wajan) dan PC, serta Teknik Kendaraan Ringan (TKR).
Tak hanya sekolah, Muhammadiyah Banyuwangi juga memiliki rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Yakni RS Fatimah, Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. (Humas & Protokol)
“Muhammadiyah ini punya peran penting dalam mewujudkan Banyuwangi yang lebih baik. Pemerintah Daerah ini tangannya terbatas. Tidak mungkin segala sesuatu kita kerjakan sendiri tanpa dibantu pihak lain,” kata Anas sambil menyebut upaya Muhammadiyah membangun sekolah- sekolah untuk meningkatkan kualitas SDM dan rumah sakit untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Termasuk juga beberapa organisasi otonom Muhammadiyah seperti Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang dikatakannya telah berkontribusi positif bagi perkembangan Banyuwangi.
Anas terus mendorong agar Muhammadiyah tak henti menelurkan ide-ide dan sumbangsihnya demi kemajuan Banyuwangi. “Tantangan kita ke depan ada dua. Yakni tantangan global dan daerah. Kalau tantangan daerah, kita dituntut menuntaskan masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial. Langkah yang saya ambil untuk menurunkan kemiskinan adalah seluruh SKPD harus bekerja sama lintas sektoral. Dan untuk ketimpangan sosial, disparitas wilayah kita atasi dengan memperbaiki infrastruktur. Sementara untuk tantangan global kita dituntut untuk mampu terkoneksi dengan dunia global lewat penguasaan Information Technology (IT). Karena itu saya berpesan kepada sekolah-sekolah Muhammadiyah, agar pendidikan IT terus diberikan ,” beber Anas.
Dalam acara yang dihadiri ribuan jamaah Muhammadiyah itu, dilakukan pula Launching Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Banyuwangi. IMM Cabang Banyuwangi yang baru saja terbentuk merupakan IMM ke 25 se-Kabupaten/Kota di Jawa Timur. IMM Banyuwangi periode 2016-2017 ini diketuai Ahmad Nasikin.
Selain Launching IMM, ada juga penandatanganan prasasti oleh Ketua PP Muhammadiyah Pusat, Prof.Dr. H. Syafiq Mughni, MA didampingi Thohir Luth, Wakil Ketua DPW PAN Jatim dan Bupati Anas. Terdapat 5 prasasti sekaligus yang ditandatangani antara lain prasasti Pusat Dakwah Muhammadiyah Banyuwangi Masjid Besar KH. A. Dahlan; Masjid Al-Ihsan Kalibaru; Masjid Darus Sholah, Banjarsari- Glagah; Laboratorium komputer SMK Muhammadiyah Glenmore dan Gedung At-Taqwa, Pakis Duren-Banyuwangi.
Untuk diketahui, komitmen Muhammadiyah Banyuwangi untuk mencerdaskan bangsa diwujudkan dengan membangun 42 sekolah mulai tingkatan SD hingga SMA/SMK. Total 12.350 siswa yang menuntut ilmu disana. Sedangkan untuk tingkat PAUD dan TK terdapat 59 sekolah dengan jumlah siswa mencapai 5000 anak.
Muhammadiyah juga punya 3 sekolah rujukan yang sering dijadikan jujugan sekolah lain untuk belajar. Satu diantaranya adalah SMK Muhammadiyah 6 Rogojampi yang punya jaringan kerjasama permagangan nasional dan internasional. Sekolah ini juga punya program studi Teknik Komputer Jaringan, Perakitan Laptop, Wajan Bolik (antena yang terbuat dari bahan dasar wajan) dan PC, serta Teknik Kendaraan Ringan (TKR).
Tak hanya sekolah, Muhammadiyah Banyuwangi juga memiliki rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Yakni RS Fatimah, Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah. (Humas & Protokol)
Tari Jejer Jaran Dhawuk Banyuwangi Pukau Ratusan Peserta AJEG ASPPI BALI TABLE TOP 2016
Banyuwangi kembali menarik perhatian, Sabtu (27/2),
saat dilangsungkannya acara AJEG ASPPI (Asosiasi Profesional Pariwisata
Indonesia) BALI TABLE TOP 2016 di Kuta, Bali.
Video Tari Gandrung Sewu =https://www.youtube.com/watch?v=ydY4Fm_ZfSY
Acara dimulai sejak pagi pukul 09.00 WITA di Harris Hotel & Residence - Sunset Road - Bali. Banyuwangi datang sebagai peserta pameran booth sekaligus juga pengisi acara dengan menampilkan tarian Jejer Jaran Dhawuk pada Gala Dinner malam harinya.
Yang membanggakan, sebelum penampilan tarian tersebut, host acara tersebut menyampaikan terlebih dahulu narasi pendek tentang potensi pariwisata Banyuwangi dengan keindahan alamnya yang menjadi unggulan. Prestasi Banyuwangi ketika meraih juara dunia UNWTO awards di Madrid,Spanyol beberapa waktu lalu juga diulas dan ditampilkan.
Sontak seluruh peserta didalam ruangan bertepuk tangan riuh mengelu-elukan nama Banyuwangi. Penampilan Tari Jejer Jaran Dhawuk juga mendapatkan respon yang luar biasa. Hal itu terlihat dari antusiasme peserta untuk berfoto dengan para penari seusai mereka tampil. “Ini sambutan yang luar biasa. Kami tidak menyangka antusiasme penonton begitu heboh. Beberapa delegasi dari kota lain bahkan mendatangi saya dan menjanjikan dalam waktu dekat akan mengeksplore Banyuwangi,” kata Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Alfin Kurniawan.
AJEG ASPPI BALI TABLE TOP 2016 ini adalah ajang pertemuan antara "buyer" dan "seller" dimana semua pesertanya adalah travel agent se - Indonesia. Perkumpulan pariwisata tingkat nasional ini menjadi mitra strategis pemerintah pusat maupun daerah dalam upaya bersama-sama memajukan kepariwisataan masing-masing daerah. (Humas & Protokol)
Video Tari Gandrung Sewu =https://www.youtube.com/watch?v=ydY4Fm_ZfSY
Acara dimulai sejak pagi pukul 09.00 WITA di Harris Hotel & Residence - Sunset Road - Bali. Banyuwangi datang sebagai peserta pameran booth sekaligus juga pengisi acara dengan menampilkan tarian Jejer Jaran Dhawuk pada Gala Dinner malam harinya.
Yang membanggakan, sebelum penampilan tarian tersebut, host acara tersebut menyampaikan terlebih dahulu narasi pendek tentang potensi pariwisata Banyuwangi dengan keindahan alamnya yang menjadi unggulan. Prestasi Banyuwangi ketika meraih juara dunia UNWTO awards di Madrid,Spanyol beberapa waktu lalu juga diulas dan ditampilkan.
Sontak seluruh peserta didalam ruangan bertepuk tangan riuh mengelu-elukan nama Banyuwangi. Penampilan Tari Jejer Jaran Dhawuk juga mendapatkan respon yang luar biasa. Hal itu terlihat dari antusiasme peserta untuk berfoto dengan para penari seusai mereka tampil. “Ini sambutan yang luar biasa. Kami tidak menyangka antusiasme penonton begitu heboh. Beberapa delegasi dari kota lain bahkan mendatangi saya dan menjanjikan dalam waktu dekat akan mengeksplore Banyuwangi,” kata Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Alfin Kurniawan.
AJEG ASPPI BALI TABLE TOP 2016 ini adalah ajang pertemuan antara "buyer" dan "seller" dimana semua pesertanya adalah travel agent se - Indonesia. Perkumpulan pariwisata tingkat nasional ini menjadi mitra strategis pemerintah pusat maupun daerah dalam upaya bersama-sama memajukan kepariwisataan masing-masing daerah. (Humas & Protokol)
Langganan:
Postingan (Atom)




