Selasa, 09 Agustus 2016

Raisa dan Tulus akan Semarakkan Jazz Pantai Banyuwangi

Pertunjukan musik Banyuwangi Beach Jazz Festival bakal kembali digelar di Pantai Boom pada 13 Agustus 2016. Ajang musik tahunan tersebut tahun ini bakal disemarakkan oleh sejumlah penyanyi papan atas nasional. Di antaranya adalah Raisa, Tulus, Rizky Febian, dan Adera. Selain itu, ada grup Bunglon dan musisi muda Barsena Bestandhi.


”Penyelenggaraan jazz pantai ini adalah strategi pemasaran pariwisata Banyuwangi melalui event tourism yang bisa menarik kedatangan wisatawan sekaligus mengenalkan destinasi yang ada di sini,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Anas mengatakan, strategi event tourism cukup berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan di daerah yang terletak di ujung timur Pulau Jawa tersebut. Event tourism terbukti bisa memperpanjang siklus destinasi. Misalnya, misatawan yang semula hanya akan menyaksikan api biru di Kawah Ijen, bisa tinggal lebih lama karena akan menikmati jazz pantai.

”Otomatis belanja mereka juga lebih besar di Banyuwangi untuk membeli makan, jasa transportasi, jasa pemandu wisata, dan sebagainya. Biro wisata lokal sudah ada yang menyediakan paket yang memadukan kunjungan ke berbagai destinasi wisata seperti Kawah Ijen, desa adat, menyaksikan Tari Gandrung, atau menikmati pantai-pantai sebelum atau sesudah menyaksikan Banyuwangi Beach Jazz Festival,” jelas Anas.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda menambahkan, tema Banyuwangi Beach Jazz Festival tahun ini adalah ”Jazz Rise and The Next”. Banyuwangi Beach Jazz Festival tahun ini tampil lebih percaya diri dengan desain panggung cantik yang mampu menonjolkan keindahan Pantai Boom dengan latar belakang Selat Bali. Para musisi papan atas nasional yang hadir akan berbagi panggung dengan sederet musisi muda lokal yang memenangi kompetisi musik Banyuwangi Student Jazz Festival pada April lalu.

”Suguhan musik lokal yang diaransemen ulang dengan sentuhan jazz kontemporer yang menjadi tradisi jazz pantai Banyuwangi setiap tahun diharap mampu merangsang jiwa seni dan kreativitas pemusik lokal Banyuwangi. Oleh karena itu, tradisi kolaborasi unik yang memadukan musik daerah dan sentuhan jazz kontemporer akan tetap dipertahankan di ajang ini,” ujar Bramuda.

Tiket Banyuwangi Beach Jazz Festival dipasarkan mulai harga Rp300.000, dan bisa dibeli secara online maupun melalui sejumlah titik penjualan. ”Penonton akan disuguhi alunan jazz didukung oleh multimedia efek yang akan menambah keindahan pantai dengan deburan ombaknya,” pungkas Bramuda. (humas)

Bupati Lepas Kontingen Jambore Nasional 2016

Bupati Banyuwangi Azwar Anas melepas keberangkatan kontingen Banyuwangi yang akan mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) ke 10 tahun 2016 di Bumi Perkemahan Cibubur. Pelepasan itu dilakukan  di pendapa Kabupaten Banyuwangi, Selasa (9/8). Tahun ini Banyuwangi mengirimkan 32 penggalang yang menjadi kontingen Jamnas.

Menariknya, Banyuwangi juga mendapatkan kesempatan istimewa, yakni menjadi wakil Jawa Timur, untuk tampil mempertontonkan seni dan budaya khas Banyuwangi di ajang Jamnas. Ada 42 peserta kontingen kesenian dan pameran yang ambil bagian dalam kegiatan ini. Berbagai tarian, instrumen  serta  seni membatik khas Banyuwangi akan dipertunjukkan.
Saat melepas kedua kontingen tersebut, Bupati Anas menyatakan Pemkab Banyuwangi memberikan dukungan penuh atas prestasi para peserta. Di hadapan para orang tua yang turut mengantar anaknya ke pendapa, Anas menyebut betapa beruntung putra-putri mereka bisa terpilih.
“Berbahagialah putra-putri bapak ibu terpilih mewakili Banyuwangi. Karena tidak semua anak bisa berprestasi. Saya harap anak-anak yang terpilih bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Karena ini kesempatan luar biasa untuk menambah wawasan dan meningkatkan potensi diri,” ujar Anas.
Selain itu, Anas juga berpesan agar seluruh kontingen yang diberangkatkan, bisa menjadi duta Banyuwangi. “Di ajang tersebut, kalian yang merupakan teladan bagi anak-anak muda Banyuwangi yang lain juga punya kesempatan untuk menjadi duta Banyuwangi. Kalian harus punya pemahaman tentang pariwisata Banyuwangi dan  mampu mempromosikan Banyuwangi ke dunia luar,” pesannya.
Sementara itu, salah satu peserta, Bernica Damayanti (14) mengaku senang terpilih untuk ikut Jamnas di Cibubur. “Saya sama sekali tidak menyangka ikut dikirim ke Jamnas. Selama ini saya sangat menyukai kegiatan pramuka dan rajin berlatih karena memang sesuai dengan hobby saya. Ini pengalaman pertama saya. Mumpung ditunjuk, sebaiknya jangan ditolak,” ujar siswi kelas 9 SMP Kristen Alethea, Genteng ini.
Bernica berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menceritakan tentang kekayaan alam serta seni budaya Banyuwangi kepada teman-teman barunya nanti. “Saya sudah mempersiapkan pengetahuan tentang Banyuwangi, khususnya tentang destinasi  wisata dan berbagai event yang digelar untuk menyukseskan pariwisata Banyuwangi,” ungkap putri Bambang Slamet Utomo dan Veronica Martani yang jago renang, menyanyi dan sering ikut kegiatan berkemah tersebut.
Jambore Nasional merupakan pertemuan pramuka penggalang se-Indonesia dalam bentuk perkemahan besar yang diselenggarakan kwartir nasional tiap 5 tahun sekali. Jamnas ini akan digelar selama 10 hari, mulai 14 – 21 Agustus 2016.
Berbagai kegiatan menarik akan diikuti para peserta. Antara lain Global Development Village (GDV) yaitu program yang membantu meningkatkan kesadaran peserta jambore tentang isu global seperti perdamaian dunia, lingkungan hidup, pengembangan lingkungan, Hak Asasi Manusia serta kesehatan.
 Juga scouting skill, teknologi dan budaya, aktifitas air, petualangan, jumpa alumni Jamnas dan Jamdun (jambore Dunia), upacara 17 Agustus, Festival Hari Kemerdekaan, Karnaval Budaya, Malam Kebudayaan, Festival Kuliner Nusantara, dan api unggun. (Humas)

Kebijakan Full Day School Bias Kota,Bupati Banyuwangi

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berharap penerapan kebijakan full day school yang diwacanakan oleh Mendikbud Muhadjir Effendy betul-betul dikaji.
Dia menilai kebijakan tersebut relatif bias kota, dan belum tentu cocok diterapkan di daerah yang jauh dari pusat pertumbuhan utama, seperti Banyuwangi. ”Prinsipnya kami patuh dengan kebijakan pemerintah pusat. Namun, alangkah elok jika kebijakan tersebut juga memperhatikan keberagaman wilayah, tantangan-tantangan yang ada di daerah, karakteristik daerah,” ujar Anas. Anas mengatakan, kebijakan full day school ini cenderung bias kota. Kebijakan tersebut belum pas jika diterapkan di daerah-daerah. ”Di desa-desa, ada lho anak yang setelah pulang sekolah dia ikut melihat bapaknya bekerja di sawah, ikut melihat bapaknya merawat buah naga di kebun. Ada juga yang ikut melihat ibunya membatik. Itu bagian dari pengalaman, interaksi dengan orang tua,” kata Anas. ”Saya bukannya menolak berlebihan. Tapi rasanya full day school kurang pas diterapkan. Baik dalam konteks filosofi pendidikan di mana tumbuh-kembang anak butuh interaksi banyak dengan orang tuanya, maupun dalam konteks kedaerahan yang macam-macam modelnya,” imbuh Anas. Oleh karena itu, Anas berharap kebijakan full day school perlu dikaji lebih mendalam bila diterapkan secara menyeluruh. Banyak aspek harus dipertimbangkan. ”Kurang pas jika kemudian pengalaman orang kota dibawa ke orang daerah atau katakanlah orang yang tinggal di desa,” kata dia. Lagipula, sambung Anas, tidak semua orang tua itu bekerja. Artinya, mungkin ayahnya yang bekerja, sedangkan ibunya di rumah. Atau ibunya bekerja di kantor, sedangkan ayahnya berwirausaha dari rumah. ”Kan kalau begitu tetap bisa mendampingi anak saat siang hingga sore hari. Saya kira anak tetap perlu banyak interaksi dengan orang tua yang ada di rumah karena pembentukan karakter utama kan sebenarnya dari rumah,” pungkas Anas. Seperti diketahui, Mendikbud Muhadjir Effendy melontarkan gagasan untuk menerapkan full day school untuk menekan angka kekerasan terhadap anak di luar sekolah. Full day school dalam gagasan tersebut dikombinasikan dengan berbagai aktivitas luar kelas seusai jam pembelajaran. (Humas)