Senin, 05 September 2016

Panggung Gembira 2016 Pondok Modern Darussalam Gontor 5

VIDEO =

Panggung Gembira 2016 Pondok Modern Darussalam Gontor 5




Proses Evakuasi Kecelakaan Maut 2016,Sopir Terjepit Mobilnya-Jl Halmahera Tampo-Plampang KM 2

 Kejadian ini terjadi pada tgl 31 Agustus pkl 19.00.
Kronologi yg dipaparkan masyarakat dan saksi,
mobil melaju kencang.dari arah barat
kota cluring-menuju ke arah plampang.
Dan menabrak Pohon Mahoni di sisi kanan jalan.
TKP jalan raya Halmahera-jl Plampang Tampo-kec Cluring.
Korban Meninggal 1 orng(Sopir)warga plampang & 1 Orng Lagi Kernet,
warga cluring yg Kritis.Evakuasi korban meninggal cukup panjang,mulai pkl 7mlm-9mlm.
Dikarenakan badan korban terhimpit bodi mobil.

VIDEO = 

Proses Evakuasi Kecelakaan Maut 2016,Sopir Terjepit






Sepak Bola Cewek Sexy Lucu Goyang & Waria Final Banyuwangi


VIDEO = Sepak Bola Cewek Sexy Lucu Goyang & Waria FinalBanyuwangi Tampo








Uniknya Tradisi Mepe Kasur Suku Osing Kemiren, Banyuwangi

Ada tradisi unik yang selalu digelar masyarakat Osing, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi setiap menjelag Hari Raya Idul Adha. Yaitu tradisi mepe kasur (jemur kasur-red), sebuah tradisi menjemur kasur secara bersamaan di sepanjang depan  rumah warga sebelum dilaksanakan Tumpeng Sewu, pada malam harinya.

Seperti yang terlihat hari ini, Minggu (4/9). Ratusan warga nampak kompak mepe kasur di sepanjang jalan desa setempat. Di setiap depan rumah penduduk berjajar rapi jemuran kasur.
Uniknya, kasur-kasur tersebut memiliki warna yang seragam, yaitu berwarna dasar hitam dengan pinggiran merah. Sesekali, juga terlihat warga yang sedang memukul-mukul kasur yang mereka jemur itu dengan sapu lidi atau penebah rotan agar bersih.
Masyarakat Using meyakini dengan mengeluarkan kasur dari dalam rumah dapat membersihkan diri dari segala penyakit. Dan khusus bagi pasangan suami isteri, tradisi ini bisa diartikan terus memberikan kelanggengan. Karena setelah kasur-nya dijemur, akan empuk kembali, sehingga lebih nyaman dan bisa tidur seperti pengantin baru.
Hang sun rasakaken, sak bare ngetokaken kasur teko umah, umah katon rumyang lan rijig. Mulo iku awak kroso sehat lan ati adem,” kata Serat, warga Kemiren dengan logat Usingnya yang khas.
Warga lainnya, Faiz Fadloli menambahkan tradisi tersebut telah dilakukan turun temurun sejak lama. "Iki wes dilakoni masyarakat Kemiren mulai bengen tiap tanggal 1 Dzulhijjah," ujar nya. 
Sementara itu, Ketua Adat Kemiren, Suhaimi, mengatakan warga Osing beranggapan bahwa sumber penyakit datangnya dari tempat tidur. Karena kasur dianggap sebagai benda yang sangat dekat dengan manusia sehingga wajib dibersihkan agar kotoran yang ada di kasur hilang. Dengan demikian, mereka akan terhindar dari segala macam penyakit. 
Dijelaskan Suhaimi, kasur berwarna kombinasi hitam dan merah ini, memiliki filosofi yang sarat makna. Merah memiliki arti berani dan warna hitam diartikan simbol kelanggengan rumah tangga. “Biasanya tiap pengantin baru dibekali kasur warna ini. Harapan orang tua, agar rumah tangganya langgeng dan tentrem,” ujarnya.   
Lebih lanjut ia menambahkan, tradisi mepe kasur di kampungnya itu ada aturannya, tidak dilakukan dengan asal-asalan. "Proses menjemur kasur berlangsung sejak pagi hingga menjelang sore hari," kata Suhaimi.
Begitu matahari terbit, lanjut nya, kasur segera dijemur di depan rumah masing-masing sambil membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman. Tujuannya agar dijauhkan dari bencana dan penyakit.
Setelah matahari melewati kepala alias pada tengah hari, semua kasur harus digulung dan dimasukkan. Konon jika tidak segera dimasukkan hingga mata hari terbenam, kebersihan kasur ini akan hilang dan khasiat untuk menghilangkan penyakit pun tidak akan ada hasilnya.
Setelah memasukkan kasur ke dalam rumah masing-masing, warga Using pun melanjutkan tradisi bersih desa ini dengan arak-arakan barong. Barong diarak dari Ujung Desa menuju ke batas akhir desa yang ada di atas. Setelah arak-arakan Barong, masyarakat Using malanjutkan berziarah ke Makam Buyut Cili yang diyakini masyarakat sebagai penjaga desa.
Sebagai puncaknya, ketika warga bersama-sama menggelar selamatan Tumpeng Sewu pada malam hari. Semua warga mengeluarkan tumpeng dengan lauk khas warga Osing, yaitu pecel pithik alias ayam panggang dengan parutan kelapa. Kekhasan acara ini juga ditambah akan dinyalakan obor di setiap depan pagar rumah warga. (Humas)

Tumpeng Sewu, Tradisi Using yang Diminati Wisatawan

Banyuwangi terus mengembangkan destinasi wisatanya. Bukan hanya kekayaan wisata alamnya, namun budaya dan tradisi masyarakatnya terus dikembangkan. Salah satunya ritual adat Tumpeng Sewu yang digelar oleh masyarakat Desa Kemiren. Minggu malam (4/9), ribuan orang memenuhi jalanan Desa Kemiren.

Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar maupun karpet yang tergelar di depan rumah. Di hadapannya tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang. Dilengkapi lauk khas warga Kemiren, pecel pithik dan sayur lalapan sebagai pelengkapnya. Usai kumandang do’a yang yang dibacakan sesepuh dari masjid di desa setempat, masyarakat mulai makan tumpeng bersama. Suasana guyub dan kebersamaan pun terasa. Meski tak jarang di sekelompok orang yang duduk bersama itu baru saja saling mengenal.
Seperti yang diungkapkan Nuke Ladyna, asal Surabaya, yang merasakan kehangatan warga Kemiren. "Saya tahu Tumpeng Sewu dari Twitter. Dua minggu lalu saya sudah berencana main ke sini. Saat tiba di sini, kami langsung diajak makan bersama warga. Mereka ramah-ramah," kata Nuke. Asisten Dosen Universitas Airlangga itu juga menyatakan terkesan dengan pecel pitik. Dia pertama kalinya melihat pecel petek yang menjadi sajian utama di Tumpeng Sewu. "Saya baru pertama kali ini melihat ayam bakar dicampur bumbu kelapa," kata Nuke.
Hal yang sama dilontarkan oleh wisatawan asal Surabaya lainya, Anggraenny Prajayanti. Gadis yang akrab disapa Aang itu, juga sempat melihat proses pembuatan pecel petek. Aang mendatangi rumah penduduk Minggu siang, untuk melihat bagaimana pembuatan pecel petek. "Ternyata cara masaknya unik. Saya kira dibakar langsung, ternyata didekatkan pada api sehingga lemak dan darah dari ayam itu hilang. Selain itu, nasinya ternyata ditanak dengan cara dikukus," kata Aang.
Tumpeng Sewu merupakan tradisi adat warga Using, suku asli masyarakat Banyuwangi, yang digelar seminggu sebelum Idul Adha. Sebelum makan tumpeng sewu warga akan di ajak berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala. Setiap rumah warga Using di Kemiren mengeluarkan minimal satu tumpeng yang diletakkan di depan rumahnya. Pagi harinya sebelum dimulai selamatan masal, warga telah melakoni ritual mepe kasur.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Yanuar Bramuda mengatakan pihaknya terus berupaya mengangkat tradisi lokal Banyuwangi, seperti tumpeng sewu. Menurut dia, tradisi menjadi salah satu daya tarik wisata yang banyak diminati wisatawan. Saat ini banyak travel yang membuat paket-paket wisata yang memasukkan atraksi budaya sebagai salah satu destinasinya. “Kekhasan semacam ini banyak diminati wisatawan. Kami akan terus mendorong bentuk-bentuk wisata ini karena wisata tradisi ini juga bisa memperpanjang lama tinggal wisatawan di Banyuwangi. Mereka yang setelah dari Gunung Ijen, bisa menikmati dulu tradisi Kemiren," kata Bramuda.
Selain itu, lanjut dia, nilai-nilai yang dimiliki warga Banyuwangi yang egaliter dan terbuka juga menopang Banyuwangi dalam membidik segmentasi pariwisata syariah. Pariwisata Banyuwangi saat ini masih didominasi wisatawan asing dari Eropa seperti Perancis dan Belanda. "Tradisi semacam tumpeng sewu ini akan memperluas segmentasi kami ke pasar Timur Tengah dan Asia. Karena karakter wisatawan dinkawasan tersebut menyenangi tradisi swmacam ini. Kami juga sudah ada pembicaraan dengan agen travel dari Malaysia. Mereka tertarik untuk membuat paket wisata yang direct langsung dari Malaysia ke Banyuwangi. Semuanya sedang kita siapkan," ujar Bramuda.
Sampai saat ini wisatawan Banyuwangi sendiri terus meningkat. Pada 2015 wisatawan mancanegara mencapai 40 ribu, dan wisatwan domestik sejumlah 1,8 juta orang. "Target kami tahun 2016 ini wisman tembus 50 ribu, dan domestik 2,5 juta orang. Saat bulan ini sudah 2,1 jta wisatawan yang melancong ke Banyuwangi," pungkas Bramuda. (Humas)

Selasa, 09 Agustus 2016

Raisa dan Tulus akan Semarakkan Jazz Pantai Banyuwangi

Pertunjukan musik Banyuwangi Beach Jazz Festival bakal kembali digelar di Pantai Boom pada 13 Agustus 2016. Ajang musik tahunan tersebut tahun ini bakal disemarakkan oleh sejumlah penyanyi papan atas nasional. Di antaranya adalah Raisa, Tulus, Rizky Febian, dan Adera. Selain itu, ada grup Bunglon dan musisi muda Barsena Bestandhi.


”Penyelenggaraan jazz pantai ini adalah strategi pemasaran pariwisata Banyuwangi melalui event tourism yang bisa menarik kedatangan wisatawan sekaligus mengenalkan destinasi yang ada di sini,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Anas mengatakan, strategi event tourism cukup berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan di daerah yang terletak di ujung timur Pulau Jawa tersebut. Event tourism terbukti bisa memperpanjang siklus destinasi. Misalnya, misatawan yang semula hanya akan menyaksikan api biru di Kawah Ijen, bisa tinggal lebih lama karena akan menikmati jazz pantai.

”Otomatis belanja mereka juga lebih besar di Banyuwangi untuk membeli makan, jasa transportasi, jasa pemandu wisata, dan sebagainya. Biro wisata lokal sudah ada yang menyediakan paket yang memadukan kunjungan ke berbagai destinasi wisata seperti Kawah Ijen, desa adat, menyaksikan Tari Gandrung, atau menikmati pantai-pantai sebelum atau sesudah menyaksikan Banyuwangi Beach Jazz Festival,” jelas Anas.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda menambahkan, tema Banyuwangi Beach Jazz Festival tahun ini adalah ”Jazz Rise and The Next”. Banyuwangi Beach Jazz Festival tahun ini tampil lebih percaya diri dengan desain panggung cantik yang mampu menonjolkan keindahan Pantai Boom dengan latar belakang Selat Bali. Para musisi papan atas nasional yang hadir akan berbagi panggung dengan sederet musisi muda lokal yang memenangi kompetisi musik Banyuwangi Student Jazz Festival pada April lalu.

”Suguhan musik lokal yang diaransemen ulang dengan sentuhan jazz kontemporer yang menjadi tradisi jazz pantai Banyuwangi setiap tahun diharap mampu merangsang jiwa seni dan kreativitas pemusik lokal Banyuwangi. Oleh karena itu, tradisi kolaborasi unik yang memadukan musik daerah dan sentuhan jazz kontemporer akan tetap dipertahankan di ajang ini,” ujar Bramuda.

Tiket Banyuwangi Beach Jazz Festival dipasarkan mulai harga Rp300.000, dan bisa dibeli secara online maupun melalui sejumlah titik penjualan. ”Penonton akan disuguhi alunan jazz didukung oleh multimedia efek yang akan menambah keindahan pantai dengan deburan ombaknya,” pungkas Bramuda. (humas)

Bupati Lepas Kontingen Jambore Nasional 2016

Bupati Banyuwangi Azwar Anas melepas keberangkatan kontingen Banyuwangi yang akan mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) ke 10 tahun 2016 di Bumi Perkemahan Cibubur. Pelepasan itu dilakukan  di pendapa Kabupaten Banyuwangi, Selasa (9/8). Tahun ini Banyuwangi mengirimkan 32 penggalang yang menjadi kontingen Jamnas.

Menariknya, Banyuwangi juga mendapatkan kesempatan istimewa, yakni menjadi wakil Jawa Timur, untuk tampil mempertontonkan seni dan budaya khas Banyuwangi di ajang Jamnas. Ada 42 peserta kontingen kesenian dan pameran yang ambil bagian dalam kegiatan ini. Berbagai tarian, instrumen  serta  seni membatik khas Banyuwangi akan dipertunjukkan.
Saat melepas kedua kontingen tersebut, Bupati Anas menyatakan Pemkab Banyuwangi memberikan dukungan penuh atas prestasi para peserta. Di hadapan para orang tua yang turut mengantar anaknya ke pendapa, Anas menyebut betapa beruntung putra-putri mereka bisa terpilih.
“Berbahagialah putra-putri bapak ibu terpilih mewakili Banyuwangi. Karena tidak semua anak bisa berprestasi. Saya harap anak-anak yang terpilih bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Karena ini kesempatan luar biasa untuk menambah wawasan dan meningkatkan potensi diri,” ujar Anas.
Selain itu, Anas juga berpesan agar seluruh kontingen yang diberangkatkan, bisa menjadi duta Banyuwangi. “Di ajang tersebut, kalian yang merupakan teladan bagi anak-anak muda Banyuwangi yang lain juga punya kesempatan untuk menjadi duta Banyuwangi. Kalian harus punya pemahaman tentang pariwisata Banyuwangi dan  mampu mempromosikan Banyuwangi ke dunia luar,” pesannya.
Sementara itu, salah satu peserta, Bernica Damayanti (14) mengaku senang terpilih untuk ikut Jamnas di Cibubur. “Saya sama sekali tidak menyangka ikut dikirim ke Jamnas. Selama ini saya sangat menyukai kegiatan pramuka dan rajin berlatih karena memang sesuai dengan hobby saya. Ini pengalaman pertama saya. Mumpung ditunjuk, sebaiknya jangan ditolak,” ujar siswi kelas 9 SMP Kristen Alethea, Genteng ini.
Bernica berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menceritakan tentang kekayaan alam serta seni budaya Banyuwangi kepada teman-teman barunya nanti. “Saya sudah mempersiapkan pengetahuan tentang Banyuwangi, khususnya tentang destinasi  wisata dan berbagai event yang digelar untuk menyukseskan pariwisata Banyuwangi,” ungkap putri Bambang Slamet Utomo dan Veronica Martani yang jago renang, menyanyi dan sering ikut kegiatan berkemah tersebut.
Jambore Nasional merupakan pertemuan pramuka penggalang se-Indonesia dalam bentuk perkemahan besar yang diselenggarakan kwartir nasional tiap 5 tahun sekali. Jamnas ini akan digelar selama 10 hari, mulai 14 – 21 Agustus 2016.
Berbagai kegiatan menarik akan diikuti para peserta. Antara lain Global Development Village (GDV) yaitu program yang membantu meningkatkan kesadaran peserta jambore tentang isu global seperti perdamaian dunia, lingkungan hidup, pengembangan lingkungan, Hak Asasi Manusia serta kesehatan.
 Juga scouting skill, teknologi dan budaya, aktifitas air, petualangan, jumpa alumni Jamnas dan Jamdun (jambore Dunia), upacara 17 Agustus, Festival Hari Kemerdekaan, Karnaval Budaya, Malam Kebudayaan, Festival Kuliner Nusantara, dan api unggun. (Humas)

Kebijakan Full Day School Bias Kota,Bupati Banyuwangi

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas berharap penerapan kebijakan full day school yang diwacanakan oleh Mendikbud Muhadjir Effendy betul-betul dikaji.
Dia menilai kebijakan tersebut relatif bias kota, dan belum tentu cocok diterapkan di daerah yang jauh dari pusat pertumbuhan utama, seperti Banyuwangi. ”Prinsipnya kami patuh dengan kebijakan pemerintah pusat. Namun, alangkah elok jika kebijakan tersebut juga memperhatikan keberagaman wilayah, tantangan-tantangan yang ada di daerah, karakteristik daerah,” ujar Anas. Anas mengatakan, kebijakan full day school ini cenderung bias kota. Kebijakan tersebut belum pas jika diterapkan di daerah-daerah. ”Di desa-desa, ada lho anak yang setelah pulang sekolah dia ikut melihat bapaknya bekerja di sawah, ikut melihat bapaknya merawat buah naga di kebun. Ada juga yang ikut melihat ibunya membatik. Itu bagian dari pengalaman, interaksi dengan orang tua,” kata Anas. ”Saya bukannya menolak berlebihan. Tapi rasanya full day school kurang pas diterapkan. Baik dalam konteks filosofi pendidikan di mana tumbuh-kembang anak butuh interaksi banyak dengan orang tuanya, maupun dalam konteks kedaerahan yang macam-macam modelnya,” imbuh Anas. Oleh karena itu, Anas berharap kebijakan full day school perlu dikaji lebih mendalam bila diterapkan secara menyeluruh. Banyak aspek harus dipertimbangkan. ”Kurang pas jika kemudian pengalaman orang kota dibawa ke orang daerah atau katakanlah orang yang tinggal di desa,” kata dia. Lagipula, sambung Anas, tidak semua orang tua itu bekerja. Artinya, mungkin ayahnya yang bekerja, sedangkan ibunya di rumah. Atau ibunya bekerja di kantor, sedangkan ayahnya berwirausaha dari rumah. ”Kan kalau begitu tetap bisa mendampingi anak saat siang hingga sore hari. Saya kira anak tetap perlu banyak interaksi dengan orang tua yang ada di rumah karena pembentukan karakter utama kan sebenarnya dari rumah,” pungkas Anas. Seperti diketahui, Mendikbud Muhadjir Effendy melontarkan gagasan untuk menerapkan full day school untuk menekan angka kekerasan terhadap anak di luar sekolah. Full day school dalam gagasan tersebut dikombinasikan dengan berbagai aktivitas luar kelas seusai jam pembelajaran. (Humas)

Jumat, 10 Juni 2016

Festival Hadrah 2016 Pelajar Dibuka, Diikuti 52 Grup Se-Jawa Bali

Festival yang digelar selama dua hari 10 – 11 Juni digelar di lapangan parkir Stadion Diponegoro dan dibuka Kepala Dinas Pendidikan, Kabupaten Banyuwangi, Sulihtiyono.
Dikatakan Sulihtiyono, festival hadrah pelajar ini untuk mewadahi krativitas pelajar yang bermusik dengan nuansa religi. Sekaligus sebagai sarana konsolidasi dan silahturahmi antar pelajar. Apalagi potensi bermusik hadrah di lingkungan pelajar saat ini mulai cukup besar.
Hari pertama event ini digelar cukup marak dengan menampilkan 30 grup penampil. Antusiasme penonton dan peserta hadrah festival cukup tinggi. Awal dibuka, panggung hadrah langsung diiisi dengan penampilan cantik para hadrah pelajar. Salah satunya hadrah SMK Alawiyah, Glagah.
Vokalis Hadrah Az- Zahroh ini, Nadilatul Uliya, mengaku cukup pede saat tampil di festival ini. Meski latihan tidak terlalu lama, tetapi keseriusan dalam latihan sangat memberinya bekal yang kuat untuk tampil.
Begitu halnya Lulu Atul Wahidah SY, pelajar kelas XII SMA Darul Hikmah, Gambiran, Banyuwangi. Vokalis hadrah Syifaul Qulbi, ini mengaku sangat senang bisa tampil disini. “Kami berlatih sendiri dengan ektra keras. Bersama delapan temannya, grup hadrah kami akhirnya pun lolos audisi. Ini sesuatu yang tidak kami duga,” ungkapnya.
“Mereka tadi memberikan  contoh dan sentuhan bermain hadrah yang berkualitas para pelajar. Tentunya ini akan memberikan pengalaman yang seru bagi mereka,” ujar Sulih.
Festival hadrah pelajar adalah bagian dari Festival Ramadhan yang merupakan rangkaian agenda Banyuwangi Festival 2016. Festival Ramadhan tahun ini dibalut belasan event yang akan meramaikannya. Selain Hadrah Pelajar, juga akan digelar Tartil Al Quran 9 - 27 Juni, Festival Patrol 26 - 27 Juni, dan Banyuwangi Islamic Expo dari 8 - 18 Juni yang menampilkan 14 acara.

Beching sejak April 2016, Kapal Putri Sritanjung Tenggelam Disapu Ombak

Kapal LCT Putri Sritanjung I kandas di Pantai Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu malam (8/6). Tak ada korban jiwa dalam insiden ini. Sebab, kapal dalam posisi tidak beroperasi sejak April 2016 lalu. 
Kapal Landing Craft Tank (LCT) Putri Sritanjung I merupakan aset milik pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang selama ini dikelola oleh PT. Pelayaran Banyuwangi Sejati (PBS). PT. PBS sendiri merupakan perusahaan swasta yang 90 persen sahamnya dimiliki oleh Pemkab Banyuwangi.
Direksi PT Pelayaran Banyuwangi Sejati (PBS), Wahyudi mengatakan saat insiden ini terjadi, posisi kapal sedang beching (landing/sandar) di lahan milik ASDP Ketapang, yaitu di sisi selatan Pelabuhan LCM Ketapang sejak April lalu.
"Posisi kapal ini sedang beching, dan sudah tidak beroperasi atau tengah diistirahatkan (out off date) karena regulasi sejak April lalu. Namun, karena posisinya yang tidak seimbang, antara air yang in dan out  maka kapal tenggelam ," kata Wahyudi di lokasi kejadian.
Posisi kapal yang tidak seimbang tersebut, kata Wahyudi menyebabkan  air yang masuk (in) lebih banyak dari pada yang keluar (out) saat air laut pasang maupun saat terkena terjangan ombak. "Air masuk melalui lubang-lubang yang ada di pinggir-pinggir kapal. Air masuk mulai dari ruang kemudi dan lain sebagainya cukupo banyak sedangkan yang keluar dari kapal hanya sedikit," terangnya.
Akibatnya, ekor kapal (buritan) tenggelam dan haluan (depan kapal) terangkat. Sehingga menyisahkan sebagian badan kapal yang berada di permukaan laut. "Kapal tidak bocor. Kalau memang bocor dari dulu pasti sudah tenggelam. Tapi ini memang karena faktor alam. Kondisi ombak cukup besar."
Disebutkannya, insiden ini terjadi sekitar pukul 20.30 WIB. Namun, sejak pagi ‎tadi, pihak PT PBS sebenarnya sudah stand by hingga Mahgrib. Air laut masuk sudah sejak pagi dan dilakukan upaya pengurasan hingga Mahgrib. "Sayangnya, sekitar pukul 20.30 WIB, terjadi insiden kapal tenggelam. Karena air yang masuk sudah terlalu besar,”
Selanjutnya, pihak PT. PBS melakukan penarikan kapal ke daratan. Targetnya malam ini upaya penarikan kapal selesai.

Kunjungi Korban Banjir Muncar, Bupati Azwar Anas Langsung Ajak Tahlilan

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengunjungi rumah duka Maisah (41) Dusun Krajan Desa Kedungringin, Muncar, Kamis (9/6). Tiba di lokasi, Azwar Anas langsung memimpin pembacaan tahlil mendoakan korban.

Maisah merupakan korban meninggal akibat banjir Muncar yang terjadi pada Rabu (8/6). Ibu dua orang anak tersebut meninggal lantaran tersengat listrik saat berusaha mematikan listrik ketika air mulai memasuki rumahnya.
Tiba di rumah duka, Azwar Anas langsung disambut oleh suami korban Robani Hidayat. "Pak Anas mohon doa untuk istri saya. Kemarin sudah dibawa ke Jember untuk dimakamkan," ujar Robani.
Usai berjabat tangan dengan suami korban, Azwar Anas spontan mengajak warga sekitar dan keluarga korban untuk mendoakan Maisah. Anas pun memimpin pembacaan tahlil.
Ia lalu berharap keluarga yang ditinggal tabah. "Semoga diberi jalan yang terbaik. Dan kita doakan bersama Ibu Maisah agar mendapat tempat yang terbaik," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Azwar Anas juga berjanji akan menjamin pendidikan dasar dua anak korban yang masih kecil. Selain itu, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) juga memberikan bantuan dua kursi roda untuk Robani dan anaknya yang menderita polio.
"Selain santunan, akan segera kami kirim bantuan kursi roda untuk suami dan anaknya," ujar Ketua Baznas Banyuwangi, Samsudin Adlawi yang turut hadir saat meninjau eks lokasi banjir.
Kepada warga Muncar, Azwar Anas juga meminta agar selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar. "Salah satu penyebab banjir adalah kebiasaan membuang sampah sembarangan. Ini perlu diubah," ujar Anas.
Sekedar diketahui, empat dusun di Kecamatan Muncar Banyuwangi  tergenang banjir mulai Rabu dini hari dengan ketinggian rata-rata mencapai 80 cm. Empat dusun yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Blambangan tersebut tergenang akibat luapan air Sungai Blambangan yang dipicu hujan deras selama empat jam di wilayah tersebut.
Namun, Rabu siang air sudah surut. Warga pun pada hari ini (Kamis-red) terlihat sudah memulai aktivitas sehari-hari. Bahkan ada yang terlihat sudah memproduksi sale pisang memenuhi pesanan.

Wujudkan Keamanan, Banyuwangi Deklarasikan Anti Radikalisme

Bupati Azwar Anas juga menyambut baik deklarasi tersebut yang menyatakan dukungan berbagai elemen masyarakat untuk bersama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi dalam menindak berbagai bentuk kejahatan di masyarakat.

"Kami juga senang, ada poin yang menyatakan untuk mendukung pemerintah dalam memberantas kejahatan di masyarakat. Ini sedang kami rancang bagaimana cara untuk mengatasi peredaran miras (minuman keras) di masyarakat sebagai upaya untuk menjaga keamanan," imbuhnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Kapolres Banyuwangi AKBP Budi Mulyanto. Polres yang baru beberapa pekan bertugas di Banyuwangi tersebut menyambut bahagia atas kekompakkan masyarakat Banyuwangi dalam menjaga keamanan dan ketertiban. "Sepengetahuan saya, deklarasi yang demikian ini baru pertama kali di Indonesia," ungkap Budi Mulyanto. "Ini merupakan sinergi yang baik dan akan semakin mempersempit ruang gerakan-gerakan maupun paham yang radikal," paparnya.
Ketua MUI Banyuwangi KH. Muhammad Yamin juga mendukung deklarasi bersama tersebut. Momentum bulan Ramadan, menurut Yamin, merupakan momentum yang tepat untuk menunjukkan kebersamaan dalam menjaga keamanan dari berbagai bentuk radikalisme dan gangguan.
"Indonesia ini bhineka tunggal ika, jadi sudah seharusnya bersatu dalam menjaga keamanan. Apalagi dalam bulan Ramadan, kesucian dan kekhusuyuan pelaksanaannya harus dijaga bersama-sama," tuturnya.
Sementara itu, berbagai elemen yang ikut menandatangi deklarasi tersebut di antaranya Bupati Banyuwangi, Kapolres Banyuwangi, Dandim 0825 Banyuwangi Letkol (Inf) Robby Bulan, Danlanal Banyuwangi  Letkol Laut (P) Wahyu Indriawan, Kajari Banyuwangi Anak Agung Sayang Adyana, Ketua Pengadilan Negeri Banyuwangi H. Bakri.
Sedang dari ormas keagamaan terdiri dari Ketua MUI Banyuwangi KH. M. Yamin, Ketua PCNU Banyuwangi KH. Masykur Ali, Ketua PD Muhammadiyah Dr. Muhlis Lahudin, Ketua LDII Astro Junaidi, Ketua Walubi Eka Wahyu Hidayat, Wakil Ketua Hindu Parisada Dharma I Wayan Merta, Ketua BAMAG Pendeta Anang Sugeng, Tokoh Katolik Romo Aang Winarko, dan tokoh Konghuchu Indrana Tjahjono. (Humas)

Sabtu, 04 Juni 2016

Festival Ramadhan, Banyuwangi Ajak Ratusan Pelajar Jawa - Bali Mainkan musik Hadrah Tuk Sambut Puasa

Gelar Festival R Banyuwangi - Bulan Ramadan tinggal menghitung hari. Jika ingin traveling sembari menikmati berbagai tradisi Islam masyarakat Banyuwangi, mampir saja ke Festival Ramadhan di Banyuwangi.

Festival Ramadhan yang akan digelar mulai 8 hingga 27 Juni 2016 nanti ini merupakan salah satu agenda Banyuwangi Festival 2016. Festival ini dibalut belasan event yang akan meramaikannya. Mulai dari Hadrah Pelajar  10 - 11 Juni, Tartil Al Quran 9 - 27 Juni, Festival Patrol 26 - 27 Juni, dan Banyuwangi Islamic Expo dari 8 - 18 Juni yang menampilkan 14 acara. Dikatakan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas festival Ramadhan ini digelar agar warga Banyuwangi dan wisatawan dapat lebih mengenal tradisi masyarakat Banyuwangi saat Ramadhan, sekaligus meresapi kemuliaan Ramadhan.
"Festival Ramadhan ini kami gelar juga sebagai rasa syukur atas datangnya bulan yang penuh rahmat ini. Lewat festival ini disuguhkan sejumlah tradisi yang biasa dilakukan umat muslim Banyuwangi selama bulan puasa. Misalnya musik patrol yang biasa digelar warga usai sholat Taraweh hingga menjelang saur, ini kami festivalkan di sini," ujar Anas. Patrol merupakan musik etnik khas Banyuwangi yang seluruh instrumennya terbuat dari bambu dengan bentuk gong, kempul, angklung, kendang, dan serulin. Biasanya dimainkan setiap bulan Ramadhan baik untuk ronda maupun membangunkan warga untuk sahur. Syair-syair yang dinyanyikan biasanya mengambil dari kitab Barjanji dan lagu daerah Banyuwangi.  Festival patrol ini akan diikuti 24 grup patrol. Mereka akan bermusik sambil parade keliling melewati kampung-kampung di perkotaan. "Mereka akan start lapangan parkir depan Stadion Diponegoro Banyuwangi. Karena semua agenda festival Ramadhan ini akan dipusatkan di sini. Kecuali Tartil Al Quran yang akan digelar di sekolah dan masjid sepanjang Ramadhan," ujar Anas.   Ditambahkan Anas, Festival Ramadhan ini juga sebagai ajang untuk menampilkan bakat para siswa sekolah. Seperti festival hadrah yang sengaja diperuntukan bagi siswa SLTA sederajat. Tidak tanggung-tanggung, selain diikuti 42 grup asal Banyuwangi, festival ini akan diikuti 15 grup hadrah pelajar se-Jawa - Bali. Mulai dari Malang, Jember, Lumajang, Tabanan, Singaraja, hingga Denpasar akan turut meramaikan acara ini. "Setelah April lalu kami menggelar Student Jazz Festival, kini ratusan pelajar dari berbagai kota akan memainkan musik hadrah untuk meramaikan Festival Ramadhan Banyuwangi," ujar Anas. Kepala Dinas Pendidikan Sulihtiono menambahkan bahwa festival Ramadhan ini juga dimaksudkan untuk mengisi masa liburan para siswa dengan sejumlah agenda yang bisa memperkaya wawasan mereka tentang agama Islam, seperti Banyuwangi Islamic Expo. "Banyuwangi Islamic Expo akan menjadi pembuka Festival Ramadhan yang dimulai pada 8 Juni nanti. Dalam Islamic Expo nanti akan ada kegiatan bedah buku Islami, peragaan busana muslim, telling story tentang kisah-kisah Islami, dan lomba adzan yang dominan diperuntukan bagi pelajar," ujar Sulihtiono. Kegiatan ini, imbuh dia, dirancang untuk membangkitkan semangat membaca buku para pelajar dengan menggandeng komunitas Rumah Literasi Banyuwangi. Kegiatannya antara lain bedah buku yang akan digelar setiap hari dari tanggal 13 - 17 Juni, lomba mewarnai dan pelatihan leadership pada 15 Juni, peragaan busana muslim 13 Juni, serta parenting class pada tanggal yang sama. "Akan ada juga lomba bercerita kisah Islami pada 14 Juni, pelatihan membaca buku berjejang, lomba adzan 16 Juni, juga akan ada antologi dan musikalisasi puisi yang disertai acara nonton bareng pada 18 Juni," pungkas Sulihtiono.

Banyuwangi Kota Juara Porseni Tingkat Kabupaten

Pekan Olah Raga dan Seni (Porseni) SD/MI Kabupaten Banyuwangi, yang berlangsung 1 – 3 Juni 2016, resmi ditutup tadi malam di Gesibu Blambangan Banyuwangi, Jumat (3/6).  Porseni 2016 ini, dijuarai Kecamatan Banyuwangi Kota dengan perolehan 20 medali emas, 9 perak dan 4 perunggu.
Sementara diurutan kedua adalah Kecamatan Rogojampi dengan perolehan 9 medali emas, 10 perak dan 4 perunggu. Urutan ketiga adalah Kecamatan Genteng yang memperoleh 7 medali emas, 9 perak dan 10 perunggu.
“Para peraih emas ini nanti akan kita persiapkan untuk mengikuti Porseni Tingkat Provinsi yang akan digelar di Surabaya tahun depan. Jika tahun lalu kita berhasil meraih urutan II dari 38 kabupaten/kota se Jawa Timur, tahun ini paling tidak kita bisa mempertahankan juara tersebut dengan cabor panahan yang menjadi unggulan,” kata Kabid Olah Raga Dinas Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Banyuwangi, Dwi Marhen Yono.
Selain persiapan ke Porseni Jatim, pemerintah juga memberikan penghargaan kepada para peraih medali berupa tropi dan piala. “Juara umum pada event ini berhak mendapatkan Piala bergilir dari Bupati Banyuwangi dan tropi juara. Sementara juara II dan III, masing-masing mendapatkan tropi juara,” kata Marhen, sapaan akrabnya.
Penutupan event dua tahunan ini, dihadiri seluruh peserta dan official porseni dari 24 kecamatan yang ada di Banyuwangi. Acara ini ditutup langsung oleh Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesra, Wiyono. Meski tidak dihadiri Bupati Abdullah Azwar Anas secara langsung,  namun penutupan tetap berlangsung meriah. Karena, Bupati Anas langsung menyapa undangan dengan menggunakan aplikasi face time secara live dari Jakarta.
Bupati Anas menyampaikan apresiasinya kepada pelajar SD/MI yang telah berlomba di porseni tersebut. Porseni tingkat SD/MI ini tidak hanya sebagai ajang untuk mencari juara, namun juga untuk sebagai forum silaturahmi antar sesama guru dan siswa dari seluruh penjuru Banyuwangi.
“Melalui kegiatan ini, para siswa dan guru bisa membangun solidaritas dan kekuatan untuk membangun prestasi dan lingkungan yang baik. Dengan berkumpul seperti ini siswa dan guru bisa saling bertukar informasi dan menularkan hal yang bermanfaat. Sehingga saat kembali ke sekolah masing-masing, bisa menerapkan hal baru tersebut,” kata Bupati Anas.
Bupati Anas berharap para guru dan orang tua siswa ikut menjaga Banyuwangi dengan meningkatkan potensi diri masing-masing. Serta terus mendorong semangat berprestasi kepada anak dan peserta didiknya sejak dini. “Semangat yang muncul dari anak adalah kekuataan baru  untuk membangun Banyuwangi. Ke depan, generasi penerus ini harus terus kita dukung agar mampu bersaing dalam kompetisi global,” ujar Bupati Anas.
Selain itu, Bupati Anas juga meminta orang tua dan guru terus meningkatkan kewaspadaan terhadap anak-anak, mengingat maraknya tindak kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini. “Prestasi harus terus jalan, tetapi anak-anak harus bisa menjaga diri, jauhi pergaulan yang tidak baik. Selalu jalin kedekatan dengan orang tua dan guru,” kata Anas.  
Porseni 2016 ini diikuti sekitar  3.509 peserta, dengan 11 cabang olah raga dan  enam bidang kesenian.  Cabor tersebut antara lain atletik, bulu tangkis, pencak silat, renang, tenis meja, tenis lapangan, bola volley mini, catur, senam dan sepak takraw. Sedangkan dari bidang kesenian ada penampilan defile/kontingen, olah musik tradisional, paduan suara, kreasi tari, seni mematung dan teater.

Smart Kampung Banyuwangi Gerakkan Ekonomi Lokal

Program ”Smart Kampung” berbasis desa yang digagas oleh Pemkab Banyuwangi efektif dalam menggerakkan ekonomi lokal, terutama warga desa. Instrumen teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mampu mendorong kreativitas warga dalam melakukan kegiatan ekonomi produktif.

”Kami memang sengaja mengusung program Smart Kampung, bukan Smart City karena memang tantangan kami ada di kampung-kampung. Ada dua tantangan utamanya, yaitu infrastruktur termasuk infrastruktur TIK yang masih minim dan kapasitas SDM yang perlu ditingkatkan. Hal ini berbeda dengan kota besar yang infrastruktur dan SDM-nya sudah sangat oke,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dihubungi usai menjadi pembicara dalam Festival Nasional yang bertajuk Smart Money Smart City yang digagas oleh Bank Indonesia di ruang eksibisi Golf Driving Senayan, Jakarta, Jumat (3/6).
Program ”Smart Kampung” baru saja diluncurkan oleh Menkominfo Rudiantara pada Selasa lalu (31/5). Di Banyuwangi telah ada 41 desa/kelurahan yang menjadi pilot project ”Smart Kampung” dan saat ini sedang disiapkan untuk 176 desa lainnya. ”Smart Kampung” adalah program pengembangan desa terintegrasi yang memadukan antara penggunaan TIK berbasis serat optik, kegiatan ekonomi produktif, kegiatan ekonomi kreatif, peningkatan pendidikan-kesehatan, dan upaya pengentasan kemiskinan.
Terdapat tujuh kriteria ”Smart Kampung”, yaitu pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan, pengembangan pendidikan dan seni-budaya, peningkatan kapasitas SDM, integrasi pengentasan kemiskinan, dan melek informasi hukum. Semua kriteria tersebut diturunkan ke program yang menyentuh kepentingan publik. TIK dijadikan pendorong untuk menjalankan program sesuai tujuh kriteria tersebut.
”Contohnya, UMKM di desa diberi pelatihan teknis yang nantinya pemasaran bisa berbasis online di situs belanja UMKM banyuwangi-mall.com. Smart Kampung juga jadi instrumen untuk mempercepat inklusi keuangan alias membuat warga makin melek keuangan yang akan disinergikan dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujarnya.
Anas menambahkan, kriteria pemberdayaan ekonomi dalam program ”Smart Kampung” menjadikan balai desa sebagai pusat ekonomi produktif yang difasilitasi pelatihan dan pemasarannya oleh pemerintah daerah, seperti batik dan produk olahan pertanian. ”Tentu jenis produknya menyesuaikan potensi lokal masing-masing kampung,” ujar dia.
Dengan ”Smart Kampung”, Anas berharap warga tak lagi minder karena semua pelayanan berbasis desa bisa menjawab kebutuhan warga. Dengan program ini, warga kampung bisa semakin termotivasi untuk maju. Yang pelajar bisa mengakses internet untuk menambah wawasan, yang UMKM bisa browsing untuk tahu tren produk, yang bergerak di pertanian bisa akses berbagai problem dan solusi pertanian, dan sebagainya. Istilahnya, bolehlah kami tinggal di kampung, tapi dekat dengan dunia,” papar Anas.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPM-PD) Suyanto Waspotondo menggarisbawahi perlunya kampung-kampung dialiri internet, bahkan harus yang berbasis serat optik. Oleh karena itu, tambahan alokasi dana desa (ADD) dari Pemkab Banyuwangi bakal dialokasikan untuk membeli bandwidth  di desa-desa. Pembelian bandwidth itu diatur dalam APBDes masing-masing desa.
”Ini juga bagian untuk menunjang pelayanan. Misalnya yang sudah jalan sejak lama adalah program Lahir Procot Pulang Bawa Akta Kelahiran. Asal disiapkan nama dan dokumen lengkap, begitu anak lahir, akta kelahiran bisa terbit. Biarkan berkasnya yang berjalan di kabel, bukan orangnya. Orangnya bisa hemat waktu, yang bisa digunakan untuk bekerja di sawah, mengolah buah, membuat batik, belajar bahasa, berkesenian, dan sebagainya. Sehingga, makin banyak warga produktif tanpa harus tersita untuk urusan administrasi,” kata Yayan, sapaan Suyanto.
Anas menambahkan, program ”Smart Kampung” bisa semakin mendorong ekonomi lokal, termasuk mengerek pendapatan per kapita warga. Dalam lima tahun terakhir, pendapatan per kapita warga Banyuwangi sudah naik 80 persen dari Rp 20,8 juta per orang per tahun pada 2010 menjadi Rp 37,53 juta per tahun pada 2015.
”Indeks ketimpangan atau gini ratio juga sudah turun menjadi 0,29. Meski demikian, problem kemiskinan tetap ada. Ada sebagian warga yang belum masuk dalam gairah peningkatan ekonomi ini. Banyak faktor penyebabnya. Mereka tidak ditinggal. Kami terus berupaya dengan program-program berkelanjutan, termasuk Smart Kampung ini,” pungkas Anas.

Bali Akan Dipadukan Dengan Konsep Wisata,Jalur Listrik Banyuwangi

Rencana pembangunan jalur listrik yang menghubungkan Banyuwangi-Bali (Bali Crossing) akan segera direalisasikan. Menariknya, pembangunan Bali Crossing yang bertempat di kawasan Watu Dodol itu, akan dikombinasikan dengan wisata edukasi. Jalur listrik yang membentang sejauh 2,68 KM itu akan ditopang dengan dua tower. Tower yang pertama akan dibangun di Watu Dodol, Wongsorejo dan  satu lagi dibangun di Segara Rupet, Taman Nasional Bali Barat. Masing-masing tower sendiri menjulang setinggi 376 Meter. Pembangunan yang ditargetkan selesai pada akhir 2018 tersebut, bertujuan untuk menunjang suplai listrik dari Jawa ke Bali, maupun sebaliknya. "Nanti ini akan dibuat dua jalur. Jadi, selain dari Jawa ke Bali, juga bisa sebaliknya. Saat di Banyuwangi kekurangan pasokan listrik, juga akan dipasok dari Bali," papar Direktur Bisnis PLN untuk Jawa Timur dan Bali Amin Subekti pada saat bertemu dengan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di lounge Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi, Kamis (2/6). Sementara itu, Bupati Anas meminta pihak PLN dalam membangun infrastruktur fisik memiliki fungsi ganda. Selain sebagai bangunan infrastruktur sendiri, juga bisa difungsikan sebagai obyek wisata contohnya. "Pembangunan ini tidak hanya dalam perspektif industri saja, namun juga harus memperhatikan sisi humanisnya, misalnya dengan membangun daerah wisata di sekitarnya," pinta Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada PLN. Gagasan Bupati Anas tersebut, disambut antusias oleh Direktur PLN Amin Subekti. "Ini ide menarik. Tower ini lebih tinggi dari Menara Eifell di Paris, tentu, akan menarik bagi wisatawan jika bangunannya bisa kami kemas," sambut Amin atas gagasan Bupati Anas. Anas pun mengusulkan agar di bagian bawah tower juga bisa dilengkapi semacam museum energi yang menjadu wahana pendidikan tentang berbagai proses dan pemanfaatan listrik. "Setiap akhir pekan bisa penuh dengan anak sekolah," harap Bupati Anas. Kunjungan Amin sendiri, selain meminta dukungan akan dibangunnya jalur listrik tersebut kepada Pemda Banyuwangi, ada pula beberapa agenda kelistrikan yang lain. PLN berencana menambah 500 Kv listrik ke Banyuwangi yang dialirkan langsung dari PLTU Paiton, Probolinggo. Penambahan listrik tersebut, menurut Amin, untuk mensuplai geliat perekonomian yang tumbuh serta dibukanya beberapa industri di Banyuwangi. "Dalam pantauan kita, Banyuwangi butuh tambahan pasokan listrik," papar Amin. Selain itu, imbuh dia, kedatangannya di sini untuk memenuhi janji Menteri BUMN Rini Soemarno yang akan mendukung upaya pengurangan kemiskinan di Banyuwangi lewat pemenuhan kebutuhan listrik. PLN telah melakukan pemetaan terhadap 1.200 kepala keluarga miskin yang belum teraliri listrik. "Kita akan membaginya dalam berdasarkan skala prioritas untuk diselesaikan secara bertahap," janji Amin.

Senin, 30 Mei 2016

Pemkab Banyuwangi Gelar Pasar Murah,Jelang Ramadhan

Selain operasi pasar sembako, menjelang bulan Ramadhan 2016 ini pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga menggelar pasar murah. Tak hanya sembako, sejumlah komoditas lain seperti sirup, kue kaleng, pakaian jadi dan batik akan dijual lebih murah dari harga pasar dan toko.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Hary Cahyo Purnomo mengatakan, pasar murah ini akan digelar mulai 8 Juni – 5 Juli 2016. “Kami akan buka setiap hari mulai pukul 08.30 – 13.00 WIB,” kata Hary.
Ditambahkan Hary, pasar murah ini dilakukan untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan selama puasa dan lebaran dengan harga terjangkau. Dalam pasar murah tersebut, Disperindagtam akan menyediakan sembako dan keperluan lain untuk menghadapi lebaran. Seperti sirup, kue kaleng, pakaian jadi dan batik. Semua produk tersebut akan dijual dengan harga pabrik yang dipastikan lebih murah dari harga pasar dan toko.
“Dengan demikian lonjakan harga yang seringkali dipicu oleh naiknya permintaan barang bisa diminimalisir sejak awal.  Pasar murah ini hasil kerja sama antara pemkab dengan PT. Pertani, distributor  sembako, toko modern dan AKRAB,” ujar Hary.
Disperindagtam akan mendirikan stand pasar murah di areal parkir kantor Disperindagtam dan tujuh lokasi lainnya yang tersebar di delapan kecamatan. Yakni di lapangan Kecamatan Giri, halaman kantor Kelurahan Kalipuro, balai Kecamatan Wongsorejo dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Maron, Genteng. Tiga lokasi lainnya adalah di dalam pasar Sumber Beras, Muncar; pasar Singojuruh dan pasar Sempu.
“Kegiatan ini akan kita awali dari areal parkir kantor Disperindagtam pada tanggal 8-12 Juni mendatang. Selanjutnya akan digelar secara bergiliran di 7 lokasi lainnya sesuai jadwal,” ujar Hary.  
Selain hal di atas, Disperindagtam juga berencana akan menggelar pasar murah khusus gula pasir bekerja sama dengan Perusahaan Pedagang Indonesia (PPI). “Untuk jadwal pelaksanaan dan jumlah stok gula yang akan dijual, kami belum bisa memastikannya.  Kami masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari PPI,” terang Hary.
Sekedar diketahui, operasi pasar sembako yang awalnya dijadwalkan akan digelar mulai 1-30 Juni mendatang. Pelaksanaannya dimajukan lima hari lebih awal sejak 27 Mei 2016. “Penambahan alokasi operasi pasar ini akan digelar di Gedung Djuang, mulai 27 Mei – 1 Juni mendatang. Pelaksanaan berikutnya akan dilakukan sesuai jadwal,” pungkas Hary. (Humas)

Wayang Kulit Ki Rudi Gareng-Wahyu Godho Inten,Sinden Purborini Bwi Festival 2016

Pagelaran wayang kulit selalu menjadi agenda rutin di Banyuwangi Festival. Tahun 2016 ini, Banyuwangi Festival menghadirkan Dalang kondang dari Kota Blitar Jawa Timur, Ki Rudi Gareng. Ki Rudi, akan unjuk kebolehannya selama semalam suntuk di Lapangan Untung Suropati, Kecamatan Muncar, Minggu (29/5).

VIDEO =https://www.youtube.com/watch?v=ARbO2hYk1HU
Dalam performnya dalang terbaik se Jawa Timur ini, akan memuaskan pecinta wayang kulit Banyuwangi dengan lakon  “Wahyu Godo Inten". Dikatakan Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, MY Bramuda, lakon ini  sengaja dipilih untuk memberikan sekilas gambaran tentang bagaimana seorang pemimpin yang berjuang dengan suka rela demi kesejahteraan tanah airnya.
Godo Inten, adalah senjata atau pusaka yang menewaskan penjahat. Perang ini terjadi antara Wisanggeni melawan Bethari Durga dan Kala yang akhirnya tewas dengan Pusaka Gada Inten. Perang ini untuk membantu mewujudkan kejayaan Pandawa. Dengan sukarela Raden Wisanggeni berkorban nyawa demi kemenangan Pandawa.

“Secara singkat, Wahyu Godo Inten berkisah bagaimana pengorbanan para Pandawa atau pemimpin negeri Astina yang ingin mempertahankan tanah airnya dari kekuasaan para Kurawa yang masih bersikukuh menguasainya. Perjuangan Pandawa tak sendiri, demi mewujudkan kebenaran di atas bumi, Sri Kresna dan Raden Wisanggeni ikut membantu Pandawa,” terang Bramuda.
Festival Wayang Kulit ini digelar sebagai salah satu sarana untuk melestarikan kesenian Jawa. "Selain Using, di Banyuwangi suku Jawa juga dominan, khususnya di wilayah selatan Banyuwangi. Dari rangkaian B-Fest kami mengakomodir  gelaran-gelaran yang mewakili sejumlah kebudayaan setempat. Wayang ini salah satunya," kata Bramuda.
Lebih jauh, kata Bramuda, permainan wayang kulit ini mengandung filosofi dan makna yang dalam dari setiap lakon yang dimainkan dalang. “Untuk itu kami selalu menghadirkan wayang kulit untuk menceriterakan lakon yang bisa menjadi tauladan dan contoh. Ki Rudi Gareng ini akan tampil semalam suntuk dengan sabetan-sabetan yang tak kalah hebat dari dalang kondang lainnya. Dipastikan para pecinta wayang kulit akan terpuaskan dengan dalang dari kota Blitar ini,” kata Bramuda.
Saat perform nanti, Ki Rudi Gareng akan memainkan ceritanya dengan ditemani Sinden fenomenal dan joss tenan “Purborini” dan limbukannya akan diramaikan dengan lawakan Kenthus. “Dipastikan pecinta wayang akan puas dengan guyonan dan cerita dari Ki Rudi Gareng. Ki Rudi akan akan mulai pukul 20.00 WIB, dan berakhir menjelang subuh,” pungkas Bramuda. (Humas)

Menkominfo Luncurkan "Smart Kampung" Banyuwangi

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dijadwalkan akan meluncurkan program "Smart Kampung" di Kabupaten Banyuwangi, Selasa (31/5/2016).

Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Banyuwangi Juang Pribadi mengatakan, Menkominfo Rudiantara dijadwalkan tiba di Bandara Blimbingsari Banyuwangi Selasa siang, dan langsungakan menuju lokasi launching program Smart Kampung di Lapangan Perkebunan Kalibendo, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
"Secara simbolis, Menteri Rudi akan merilis program Smart Kampung yang digagas oleh Pemkab Banyuwangi," ujar Juang.
"Smart Kampung" sendiri adalah program yang digagas Pemkab Banyuwangi untuk meningkatkan kualitas layanan publik di desa-desa. Program ini mendesain desa sebagai pusat kreativitas warga yang menggabungkan antara kegiatan ekonomi produktif, ekonomi kreatif, dan instrumen teknologi informasi.
"Desa yang telah memenuhi kriteria "Smart Kampung" juga telah ditunjang oleh pelayanan berbasis teknologi informasi. Jadi tidak perlu diurus ke kota. Untuk tahap awal, kami luncurkan 41 desa/kelurahan "Smart Kampung". Tahun depan kami targetkan semua desa sudah memenuhi kriteria ini. Bagi Banyuwangi, Smart Kampung penting warga yang tinggal di desa-desa akan sangat dimudahkan," imbuh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Juang menambahkan, seusai meluncurkan program tersebut, Rudiantara akan meninjau salah satu desa sebagai pilot project program, yakni Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Rudiantara akan melihat langsung dari dekat program Smart Kampung yang telah dilakukan di desa tersebut, sekaligus juga akan berdialog dengan warga desa setempat.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPM-PD) Suyanto Waspotondo mengatakan program Smart Kampung adalah program untuk menuju peningkatan peran pemerintah desa yang lebih besar. Pemerintah desa akan dioptimalkan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengelola sumber daya desanya secara efektif, efisien, dan berkelanjutan.
"Program ini kami gagas salah satunya untuk mendekatkan pelayanan publik hingga ke level desa. Saat ini baru ada 23 desa dan 18 kelurahan yang menjadi pilot project Smart Kampung. Namun bertahap, seluruh desa dan kelurahan di Banyuwangi akan bertransformasi menjadi Smart Kampung," ujar Yayan sapaan akrabnya.
Selain memberi kemudahan dalam pelayanan publik, Smart Kampung juga menjadi pusat pengembangan potensi yang dimiliki oleh tiap desa. Mulai budaya, kesenian, pertanian, ekonomi kreatif, pariwisata, pendidikan hingga kesehatan bagi warga desa.
Di Smart Kampung,  balai desa juga dikembangkan sebagai pusat aktivitas warga. Balai desa akan menjadi ruang publik yang bisa dimanfaatkan warga untuk melakukan beragam kegiatan, mulai dari les kesenian, posyandu, hingga temu warga.

"Balai desa akan dibuat senyaman mungkin untuk memberikan fasilitas terbaik bagi warga. Di setiap desa cerdas, balai desa wajib dilengkapi wifi gratis untuk bisa dipergunakan warganya. Anak-anak yang pulang sekolah bisa les kesenian atau kursus bahasa di sini, mengerjakan PR pun di balai desa karena ada internetnya. Perpustakaan juga kami wajibkan hadir di balai desa. Harapan kami, balai desa  bisa berfungsi pula sebagai rumah kreatif warga” pungkas Yayan. (humas)

Wisata Pulau Merah Raih Penghargaan Penyumbang Pajak Terbaik

Wisata Pulau Merah Banyuwangi berhasil menjadi penyumbang pajak terbaik tahun 2015. Pada periode 2015 hingga Maret 2016, obyek wisata bahari ini telah menyetorkan pajak sebesar Rp. 251,3 juta kepada pemerintah daerah. Pemkab Banyuwangi pun memberikan reward kepada pengelola Pantai Pulau Merah saat acara gathering wajib pajak, di aula hotel Ketapang Indah, Senin (30/5).

VIDEO = https://www.youtube.com/watch?v=kUH3joqpjCc
Reward ini diserahkan langsung Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Slamet Kariyono kepada perwakilan Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Jasa Lingkungan Perhutani wilayah Jatim, Rohman, sebagai pengelola wisata pantai yang berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.
“Pulau Merah menjadi contoh bagaimana sebuah obyek lokasi yang dikelola dengan baik bisa menjadi salah satu penyokong pembangunan, lewat pajak yang dibayarkan. Kami berharap, Pulau Merah menjadi contoh bagi pengelola obyek wisata lain di Banyuwangi untu taat mebayarkan pajak,” ujar Sekkab.
Dikatakan Sekkab, Pulau Merah layak mendapat penghargaan pembayar pajak terbaik kategori tempat rekreasi dan kolam renang ini karena obyek wisata ini dikelola dengan baik, mulai dari manajemen dan pelaporan keuangannya. Selain juga, lanjut Sekkab, setoran pajak Pulau Merah ini sesuai dengan perhitungan yang dilakukan oleh tim pajak daerah.
“Yang disetorkan Pulau Merah, menurut kami telah sesuai antara hasil perhitungan pihak pengelola dengan evaluasi dari tim kami,” ujar Sekkab.  
Selain Pulau Merah, wajib pajak lain yang mendapatkan reward adalah Hotel Santika, Hotel Ketapang Indah, restoran KFC Roxy Mall, rumah makan pecel ayu, warung mie nyonyor, karaoke mendut, dan New Star Cineplex.
Reward ini juga diberikan kepada tiga desa dan dua kecamatan yang tercepat melunasi pajaknya. Ketiga desa tersebut, Desa Sumbergondo dan Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore; serta Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. Juga kecamatan Tegaldlimo dan Purwoharjo.
Sekkab Slamet mengatakan, reward ini diberikan sebagai bentuk apresiasi pemerintah daerah kepada para wajib pajak. Dengan melunasi pajaknya lebih cepat dan tepat waktu, otomatis mereka telah ikut berpartisipasi membangun Banyuwangi. Seperti terbangunnya infrastruktur dan fasilitas umum. “Kami bangga dengan kontribusi para pengusaha dalam pembangunan daerah,” kata Sekkab Slamet.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendapatan Daerah Banyuwangi, Fajar Suasana menambahkan, beberapa tahun terakhir capaian target penerimaan asli daerah (PAD) Banyuwangi yang salah satunya dari pajak memang telah melampaui target. Sebut saja di tahun 2013 lalu Pemkab berhasil mengumpulkan perolehan PAD dari target Rp. 171,6 miliar terealisasi Rp. 183,02 miliar atau tercapai sebesar 106,6 persen. Tahun 2014 dari target Rp. 225, 1 miliar terealisasi Rp. 283, 3 miliar atau tercapai sebesar 125, 86 persen. Selanjutnya, di tahun 2015 dari target Rp. 303,2 miliar terealisasi Rp. 346,7 miliar atau tercapai sebesar 144,3 persen. Dan sampai dengan bulan Maret tahun 2016 ini capaian PAD dari target Rp. 307,1 miliar telah terkumpul Rp. 112,1 miliar atau sudah tercapai 36,52 persen.
“Capaian PAD yang cukup tinggi, jangan sampai membuat lengah. Kita tetap harus melakukan evaluasi terhadap potensi pajak yang masih bisa digarap secara maksimal. Sehingga capaian pajak kita semakin meningkat, ini juga atas usulan dari BPK.  Menurut BPK, Banyuwangi masih harus bekerja keras untuk menggarap potensi-potensi pajak yang saat ini masih belum tersentuh,” ujar Fajar.
Untuk memaksimalkan perolehan PAD, pemerintah akan menggenjot dari sektor pajak hotel dan restoran, hingga warung dan tempat wisata yang mulai ramai dikunjungi wisatawan. Sebab, penerimaan dari sektor di atas saat ini masih belum maksimal.  Ke depan pemerintah akan menerapkan tax monitor yang dipasang di sejumlah hotel dan restoran. Tax monitor ini sejenis sistem yang langsung terkoneksi dengan server Dispenda, yang fungsinya untuk memonitor pendapatan riil hotel maupun restoran. “Sehingga tidak ada alasan bagi hotel atau restoran tidak membayarkan pajak sesuai data yang ada,” pungkas Fajar. (Humas )

Selasa, 05 April 2016

Akhir Pekan Ini Banyuwangi Gelar 3 Festival, Mulai Kuliner Hingga Durian Banyuwangi

Festival Sego Cawuk akan digelar Sabtu, 9 April 2016, mulai pukul 08.00 WIB di Taman Blambangan. Di festival ini, ratusan peserta yang berasal dari para penjual sego cawuk, koki hotel, dan restoran serta masyarakat umum berlomba menampilkan Sego Cawuk yang berselera.
VIDEO Kuliner Bwi - https://www.youtube.com/channel/UCtAfLOKm-4Ac-vE72bcydDQ
Hasil olahan Sego Cawuk ini nantinya akan dinilai oleh Chef Aiko. Aiko adalah salah satu koki host program kuliner yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta. 
“Secara konsisten tiap tahun kami kenalkan kuliner khas Banyuwangi secara bergiliran, karena kuliner Banyuwangi ini sangat beragam. Dengan Festival Sego cawuk ini, kami mempromosikan makanan khas Banyuwangi. Semakin dikenal, tentu diharapkan penjual Sego cawuk kian kelarisan,” ujar Anas.  
Selain festival kuliner, di lokasi yang sama juga akan digelar digelar pameran agro khas Banyuwangi. Bermacam produk unggulan hortikultura komoditas buah-buahan akan ditampilkan. Juga akan ditampilkan tanaman pangan seperti beras organik, agensi hayati, serta jagung, kedelai dan berbagai jenis umbi  juga akan mengisi festival ini. Termasuk berbagai jenis tanaman hias, tanaman biofarma dan sayuran dalam polybag seperti cabai merah, cabai kecil, tomat, terung, seledri, kobis, caisim dan brokoli.
Banyuwangi Agro Expo ini juga menggelar kontes durian eksotis Banyuwangi. Anas mengatakan, semua petani durian asli Banyuwangi akan mengikuti kontes ini, baik itu duriannya berwarna merah, oranye, atau putih kekuningan.
“Lewat kontes ini, kami ingin mencari plasma nutfah (substansi pembawa sifat keturunan dari tumbuhan yang belum direkayasa) dari durian asli Banyuwangi ini, sehingga ke depannya potensi pohon-pohon induk durian ini bisa dikembangkan,” kata Anas.
Bersama dengan dua festival tersebut, Art Week ini akan digelar 9 April sampai 16 April 2016, di sepanjang jalan Pangeran Diponegoro, depan Gesibu Blambangan, mulai pukul 09.00 – 21.00 WIB.
Plt Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Banyuwangi, Alief Kartiono, Banyuwangi Art Week merupakan atalase beragam produk kerajinan khas Banyuwangi dari para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM). Di antaranya kerajinan batik, bambu, logam, aksesoris, dan berbagai suvenir khas Banyuwangi.
“Atraksi ini akan dilakukan setiap malam. Mulai dari fashion on the street, hingga suguhan talent lokal,” kata Alief. (Humas)

Pemerintah Bangun Infrastruktur Pariwisata Kawasan Taman Nasional di Banyuwangi

Pemerintah pusat segera memulai pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di kawasan taman nasional yang ada di Kabupaten Banyuwangi.
VIDEO MEMPAN di Bwi = https://www.youtube.com/watch?v=1W1h_mBF3fs
Setelah kunjungan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya pada akhir Maret lalu, tim lintas kementerian telah menggelar rapat koordinasi untuk memulai pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di Taman Nasional Alas Purwo, Taman Wisata Alam Gunung Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri.
Alhamdulillah, Jumat‎ lalu (1/4), dipimpin langsung oleh Bu Menteri LHK, digelar rapat untuk menyusun peta jalan atau road map pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di kawasan yang menjadi wilayah pemerintah pusat di Banyuwangi, khususnya di taman nasional,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Rapat tersebut, sambung Anas, dihadiri jajaran Kementerian LHK termasuk pengelola taman nasional, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
”Ibu Menteri LHK memanggil kami karena ingin segera merealisasikan pengembangan infrastruktur taman nasional yang ada di kawasan Banyuwangi. Kebetulan, beliau sudah ke Banyuwangi dan melihat potensi besar dari sisi wisatanya dengan tetap memperhatikan aspek konservasi. Jadi dalam pandangan beliau, konservasi alam juga harus memperhatikan aspek ekonomi warga sekitar. Potensi taman nasional untuk pariwisata besar, sehingga perlu dikembangkan infrastruktur penunjangnya,” kata Anas.
Anas menambahkan, segitiga andalan pariwisata Banyuwangi berada di kawasan tersebut, yaitu Gunung Ijen, Pantai Plengkung, dan Pantai Sukamade. Pengembangan infrastruktur itu harus tetap mengakomodasi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
”Misalnya, dari desa terakhir sebelum masuk taman nasional, wisatawan berhenti. Semua mobil diparkir di lapangan. Lalu menuju ke dalam taman nasional untuk melihat flora-fauna dan keindahan alam dengan mengendarai kendaraan tradisional seperti delman atau kereta kecil sepertiodong-odong di kampung-kampung,” ujar Anas.
Kepala Badan Perencanaan Pembangun Daerah (Bappeda) Banyuwangi Agus Siswanto menambahkan, peta jalan pembangunan infrastruktur pariwisata itu akan dibagi menjadi dua, yaitu pembangunan jangka pendek dan jangka panjang.
“Pembangunan jangka pendek yang sifatnya bisa segera dilaksanakan pada tahun ini. Mulai dari akses air bersih dan toilet di Gunung Ijen. Sedangkan untuk pembangunan jalan dan infrastruktur penunjang lainnya masuk skema jangka panjang yang dikoordinasikan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,” ujar Agus.
Pada pekan ini, imbuh Agus, Pemkab Banyuwangi bersama Kementerian LHK, Kemenpar, dan Kementrian PU-Pera bertemu lagi untuk mengidentifikasi sekaligus menentukan pembangunan infrastruktur yang akan digarap. 
Dengan pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata itu, sambung Agus, potensi wisata bisa lebih tergarap. ”Seperti kurangnya toilet di Gunung Ijen bisa segera tertangani,” ujarnya. (Humas)

Tahun Depan, Sirkuit BMX Banyuwangi Target Gelar Kejuaraan Dunia

Setelah sukses menggelar Banyuwangi International BMX 2016, selama dua hari, di Sirkuit BMX Muncar 2-3 April, Banyuwangi akan menggelar world championship pada 2017.
VIDEO CIRCUIT = https://www.youtube.com/watch?v=XfuZKa8QydQ
"Saat ini kami sudah di kelas C1 Race. Tahun depan kami akan menggelar kejuaraan dunia BMX," kata Bupati Banyuwangi, Abdulah Azwar Anas, Minggu (3/4). Untuk itu, lanjut Anas, Sirkuit Muncar akan segera dibenahi. Secara lintasan, Sirkuit Muncar saat ini merupakan yang terbaik di Indonesia. Namun fasilitas pendukung memang harus dibenahi.  "Untuk fasilitas pendukung memang harus kami benahi. Mulai dari tribun penonton, paddock, hingga akses ke lokasi. Segera akan kami persiapkan sesuai dengan syarat dan ketentuan dari UCI," kata Anas. Menurut Anas, kejuaraan internasional seperti BMX ini merupakan salah satu agenda sport tourism. Kejuaraan ini untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini. Melalui kejuaraan BMX yang diikuti 300 peserta lebih itu, Banyuwang membidik pasar pencinta aktivitas bersepeda BMX (Bicycle Moto-Cross).  ”Dengan ajang tersebut, kami menarik perhatian pasar penggemar BMX yang sangat besar di Indonesia. Event ini jadi pengenalan juga kepada penggemar BMX bahwa kami punya sirkuit terbaik di Indonesia dengan standar Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste Internationale/UCI),” kata Anas. Anas menjelaskan, BMX menyumbang 20 persen dari total penjualan produsen sepeda. Saat ini terus membesar, apalagi BMX resmi mulai dipertandingkan di Olimpiade sejak 2008. Dengan menggelar event BMX International, Anas berharap para penggemar BMX ke depannya bisa berkunjung dan menyalurkan hobinya beratraksi BMX di Banyuwangi. Jadi, dampak pasca-event tersebut cukup besar. ”Saya baca salah satu riset Active Marketing Group di Amerika Serikat. Di sana, ada hampir 500.000 penggemar BMX yang menggunakan BMX-nya lebih dari 100 hari dalam setahun, lebih dari 10 persennya punya pendapatan setara hampir Rp1 miliar per tahun. Di Indonesia, dari diskusi yang disampaikan teman-teman Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI), banyak di antara penggemar BMX adalah kelas menengah ke atas. Ke depan mereka bisa beratraksi di Sirkuit Muncar Banyuwangi sekaligus berwisata,” beber Anas. (Humas)

Jumat, 01 April 2016

Kejuaraan Internasional BMX Banyuwangi Diikuti Pembalap Pro Dunia

Kompetisi olahraga internasional kembali akan dihelat di Banyuwangi. Setelah sebelumnya memiliki International Tour de Banyuwangi Ijen, kini Banyuwangi menggelar even sport lainnya, International BMX Competition 2016.
Ajang adu ketrampilan bersepeda ini  akan digelar pada 2 - 3 April mendatang, dan diikuti sedikitnya 8 negara.
International BMX Competition ini telah masuk kalender Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International/UCI). Setidaknya 328 peserta dari manca negara akan saling beradu kehandalan. Negara asal peserta antara lain Malaysia, Australia, Thailand, Swiss, Singapura, Timor Leste, Jepang, dan Denmark.
"Di Indonesia, jumlah pembalap yang lebih dari 300 ini merupakan terbanyak di Indonesia. Dari Indonesia sendiri mengirimkan 20 tim," ujar Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Wawan Yadmadi.
Wawan menambahkan kejuaraan tersebut akan dibagi dalam dua kategori (provinsi dan internasional) yang terdiri dari 16 kelas. Yakni challenge boys (usia 5-6 thn, 7-8, 9-10, 11-12, 13-14, 15,16), challenge girls (6-8, 9-10, 11-12, 13-14, 15-16), challenge men, junior men & women, elite men & women.
"Dari total peserta yang masuk hingga hari ini (Rabu-30/3), terdata peserta elite men mencapai 30 pembalap, dan women elite 11 pembalap. Menurut saya ini terbanyak, karena kejuaraan dunia rata di kelas elite hanya sekitar 25  pembalap. Ini lebih dari itu," ujar Race Director kompetisi ini, Dadang Haries Purnomo.
Dikatakan Dadang yang juga pelatih tim nasional pembalap BMX, sejumah atlit nasional BMX andalan Indonesia dipastikan turut berlaga. Sebut saja Elga Kharisma Novanda, pembalap putri BMX asal Malang, dan Tony  Syarifudin.
Pembalap luar negeri yang akan berlaga di sini juga ada pembalap pro BMX dunia. Sebut saja Jimmy Therkelsen asal Denmark dan pembalap Jepang, Taka Sampei. "Therkelsen ini sudah masuk level top. Dia baru saja bertanding di kejuaraan Argentina, dan langsung terbang ke Banyuwangi," ujar Dadang, yang juga kepala bidang BMX PB ISSI.
Ajang International BMX Competition 2016 di Banyuwangi ini, lanjut Dadang, merupakan salah satu cara atlet BMX  menambah poin untuk bisa berlaga di Olimpiade Musim Panas  atau Olimpiade Rio 2016 di Brazil pada 5 – 21 Agustus mendatang.
"Karena masuk kalender UCI, bagi pembalap kejuaraan ini bisa menjadi ajang menambah poin sebelum mengikuti kejuaraan internasional seperti Olympiade," jelas Wawan.
Kompetisi ini akan dilangsungkan di sirkuit BMX Muncar. Sirkuit berstandard internasional ini berdiri sejak setahun lalu, dan pernah dipergunakan sebagai lintasan atlit Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V 2015. (humas)

Rakor 3 Pilar, Bahas BPJS Hingga Tumpang Pitu

Problematika tentang BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), Sensus Ekonomi 2016 hingga soal tambang emas Tumpang Pitu menjadi bahasan hangat dalam acara Rapat Koordinasi Sinergitas Tiga Pilar pada Selasa (29/3).
Dihelat di Taman Blambangan, acara tersebut dihadiri Forum Pimpinan Daerah, SKPD, camat, tokoh-tokoh agama, Babinsa (Bintara Pembina Desa), Babinkamtibmas (Badan Pembinaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) dan Kepala Desa/Kelurahan se-Banyuwangi.
Dalam pertemuan rutin tiga bulanan tersebut tidak hanya membahas sebatas masalah keamanan dan ketertiban masyarakat saja, namun juga membahas isu-isu strategis yang sedang berkembang di masyarakat.  Hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala BPJS Banyuwangi Santhu Harianja dan Kepala BPS Banyuwangi Muhammad Amin untuk menjawab beragam pertanyaan terkait BPJS dan sensus ekonomi 2016.
Masalah pengajuan BPJS yang banyak dialami, perlu dicarikan jalan keluarnya. Sebagaimana tampak dalam sesi dialog, pihak BPJS mengakui banyaknya aturan-aturan yang menyangkut klaim BPJS yang masih belum tersosialisai dengan baik kepada masyarakat. “Kita berharap ada sosialisasi secara luas kepada masyarakat,” harap Anas kepada kepala BPJS Banyuwangi.
Bupati Anas juga mengharapkan forum tiga pilar juga membantu masyarakat miskin agar dapat mengakses BPJS tersebut. “Forum tiga pilar harus ikut membicarakan masalah rakyat miskin. Jaminan kesehatan BPJS ini merupakan hal penting yang harus kita dampingi. Saya kira, jika kepala desa, pak lurah, pak camat bisa mengatasi hal ini, akan sangat keren,” papar Anas.
Sensus Ekonomi 2016 juga menjadi bahan dialog tersebut. Anas mengungkapkan, sensus ekonomi yang dilakukan tiap sepuluh tahun sekali, penting untuk melihat potret ekonomi di Banyuwangi. Potret ekonomi tersebut, menurut Anas, akan mempengaruhi pemerintah dalam mengambil kebijakan. “Misalnya pelaku usaha toko. Jika dagangannya laku sepuluh, jangan mengaku hanya laku dua. Jika informasi yang diberikan tidak benar, maka pemerintah bisa salah dalam menentukan kebijakan ekonomi,” ungkap Anas.
Sementara itu, tambang emas Tumpang Pitu tak luput dalam bahasan rakor tersebut. Selain soal perizinan dan amdal tambang emas, golden share berupa saham yang diterima pemerintah daerah Kabupaten Banyuwangi juga sempat dipertanyakan oleh salah satu peserta rakor. Pak Minto, perwakilan Parisada Hindu Dharma, menanyakan tentang saham 10 persen milik Kabupaten Banyuwangi dalam tambang emas Tumpang Pitu tersebut.
Terkait saham tersebut, Anas menjelaskan bahwa Pemkab Banyuwangi mendapatkan saham 10 persen non delusi. Artinya, dengan demikian, persentase saham Banyuwangi akan tetap berjumlah sepuluh persen seberapapun banyaknya modal baru yang kelak akan masuk pada investasi tambang emas Tumpang Pitu yang kini masuk bursa efek (IPO) itu. “Pemkab dapat saham 10 persen non delusi. Jadi berapapun modal yang nanti masuk ke perusahaan tambang, tidak akan mempengaruhi jumlah persentase saham pemkab,” ungkap Anas.
Anas juga memaparkan, bahwa saham 10 persen tersebut tidak dikelola oleh BUMD sebagaimana pada daerah-daerah lain, namun langsung dimasukkan ke kas APBD. Hal ini, menurut Anas, untuk menjaga nilai investasi ratusan milyar tersebut dikorup oleh jajaran BUMD yang tingkat pengawasannya cukup rendah.
“Setelah konsultasi dengan menteri keuangan, saham Pemkab tidak dikelola oleh BUMD, tapi langsung dimasukkan dalam APBD Banyuwangi. Ini sebagai bentuk niat baik kami agar investasi tersebut terus dirasakan oleh anak cucu kita kelak. Kalau ditaruh di BUMD, sangat rawan untuk diselewengkan, tapi jika ditaruh di APBD , maka harus ada kesepakatan dengan DPRD dalam mengalokasikan anggaran tersebut,” papar Anas.
“Jika DPRD mengizinkan, saham tersebut bisa dicairkan dan dipergunakan sesuai dengan kebutuhan. Misalnya untuk membangun rumah sakit atau sekolah disekitar area tambang,” imbuh Anas. (humas)

Desa di Banyuwangi Ini Miliki Sirkuit BMX Terbaik di Indonesia

Kabupaten Banyuwangi akan menggelar International BMX Competition 2016 pada 2 - 3 April mendatang. Kompetisi itu akan dilaksanakan di Sirkuit Muncar, Banyuwangi,  sirkuit BMX terbaik yang ada di Indonesia.

Meski baru setahun dibangun, Sirkuit Muncar yang terletak di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi ini merupakan sirkuit terbaik di Indonesia. Hal itu dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sepeda Sport Indonesia  (PB ISSI) Raja Sapta Oktohari. ISSI adalah federasi olahraga yang menaungi segala macam jenis olahraga berbasis sepeda.
Menurut Raja Sapta, dibandingkan daerah lain di Indonesia, tingkat kesulitan lintasan sepeda di Banyuwangi jauh lebih bagus. Sirkuit ini dibangun sesuai standar internasional dari Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste Internationale/UCI).
“Sirkuit BMX Muncar ini dibangun sesuai dengan kriteria seperti yang distandarkan oleh UCI. Di antaranya panjang dan kemiringan lintasan, serta tinggi tanjakan. Sirkuit di Banyuwangi adalah satu-satunya sirkuit BMX di Indonesia yang memenuhi standar internasional dari UCI,” kata Raja Sapta.
Oleh karena itu, sambung dia, pelatihan nasional BMX yang digelar PB ISSI dipusatkan di Banyuwangi.
Raja Sapta mengatakan, Indonesia saat ini baru memiliki 3 sirkuit BMX, yakni di Siak, Yogyakarta, dan terbaru ada di Banyuwangi. ”Siak sudah lama, tapi tingkat kesulitannya beda dengan Banyuwangi,” ujar Raja Sapta.
Sirkuit BMX Muncar merupakan sirkuit milik Pemkab Banyuwangi yang mulai dibangun 2015 dengan anggaran mencapai Rp. 2 miliar. Sirkuit yang dibangun di atas lahan seluas 2 hektare ini akan dijadikan sebagai tempat perhelatan kejuaraan MBX Internasional C1 Race pada 2-3 April mendatang. Sebelumnya, sirkuit ini juga digunakan pada pergelaran Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) V tahun 2015 saat  Banyuwangi menjadi tuan rumahnya.
Kepala Dinas PU Cipta Karya Banyuwangi, Mujiono, menuturkan, pengerjaan sirkuit dilakukan sangat detail. Selama pengerjaannya, Pemkab Banyuwangi selalu berkonsultasi dengan UCI agar hasilnya benar-benar sesuai standar. “Mulai awal pembangunan, kami memang selalu meminta pendampingan dari UCI,” kata Mujiono.
Sirkuit BMX Muncar memiliki lintasan sepanjang 350 meter dengan lebar yang bervariasi, yakni 10 meter untuk single dan 12 meter untuk double. Lintasan tersebut memiliki 17 tanjakan (jumping) dengan ketinggian yang bervariasi, mulai 0,5 meter hingga 2,25 meter, dengan sudut kemiringan 75 derajat. ”Semua itu harus diukur secara cermat, tidak boleh kurang atau lebih karena akan berpengaruh pada keselamatan atlet,” cetus Mujiono.
Terkait persiapan pelaksanaan kejuaraan Internasional BMX 2016 pada awal April mendatang, kata Mujiono, pihaknya telah melengkapi infrastruktur penunjang sirkuit.  Sejak beberapa bulan yang lalu, telah dilakukan penataan lansekap dengan penanaman rumput di tepi lintasan sirkuit yang bertujuan untuk pengamanan.
Pemkab Banyuwangi juga melakukan pavingisasi, pembuatan tribun penonton, toilet, lampu penerangan dan pagar hidup untuk pengamanan lingkungan di sekitar sirkuit. Tak lupa, ruang meeting  dan ruang penempatan material sepeda juga telah digarap.
“Mengingat ini adalah event internasional, jalan masuk menuju sirkuit juga telah di-hotmix demi kenyamanan peserta dan penonton. Setelah kejuaraan, jalan bagus itu bisa memperlancar mobilitas orang dan barang sehingga menggerakkan perekonomian masyarakat,” imbuhnya. (humas)