Sabtu, 04 Juni 2016

Banyuwangi Kota Juara Porseni Tingkat Kabupaten

Pekan Olah Raga dan Seni (Porseni) SD/MI Kabupaten Banyuwangi, yang berlangsung 1 – 3 Juni 2016, resmi ditutup tadi malam di Gesibu Blambangan Banyuwangi, Jumat (3/6).  Porseni 2016 ini, dijuarai Kecamatan Banyuwangi Kota dengan perolehan 20 medali emas, 9 perak dan 4 perunggu.
Sementara diurutan kedua adalah Kecamatan Rogojampi dengan perolehan 9 medali emas, 10 perak dan 4 perunggu. Urutan ketiga adalah Kecamatan Genteng yang memperoleh 7 medali emas, 9 perak dan 10 perunggu.
“Para peraih emas ini nanti akan kita persiapkan untuk mengikuti Porseni Tingkat Provinsi yang akan digelar di Surabaya tahun depan. Jika tahun lalu kita berhasil meraih urutan II dari 38 kabupaten/kota se Jawa Timur, tahun ini paling tidak kita bisa mempertahankan juara tersebut dengan cabor panahan yang menjadi unggulan,” kata Kabid Olah Raga Dinas Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Banyuwangi, Dwi Marhen Yono.
Selain persiapan ke Porseni Jatim, pemerintah juga memberikan penghargaan kepada para peraih medali berupa tropi dan piala. “Juara umum pada event ini berhak mendapatkan Piala bergilir dari Bupati Banyuwangi dan tropi juara. Sementara juara II dan III, masing-masing mendapatkan tropi juara,” kata Marhen, sapaan akrabnya.
Penutupan event dua tahunan ini, dihadiri seluruh peserta dan official porseni dari 24 kecamatan yang ada di Banyuwangi. Acara ini ditutup langsung oleh Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesra, Wiyono. Meski tidak dihadiri Bupati Abdullah Azwar Anas secara langsung,  namun penutupan tetap berlangsung meriah. Karena, Bupati Anas langsung menyapa undangan dengan menggunakan aplikasi face time secara live dari Jakarta.
Bupati Anas menyampaikan apresiasinya kepada pelajar SD/MI yang telah berlomba di porseni tersebut. Porseni tingkat SD/MI ini tidak hanya sebagai ajang untuk mencari juara, namun juga untuk sebagai forum silaturahmi antar sesama guru dan siswa dari seluruh penjuru Banyuwangi.
“Melalui kegiatan ini, para siswa dan guru bisa membangun solidaritas dan kekuatan untuk membangun prestasi dan lingkungan yang baik. Dengan berkumpul seperti ini siswa dan guru bisa saling bertukar informasi dan menularkan hal yang bermanfaat. Sehingga saat kembali ke sekolah masing-masing, bisa menerapkan hal baru tersebut,” kata Bupati Anas.
Bupati Anas berharap para guru dan orang tua siswa ikut menjaga Banyuwangi dengan meningkatkan potensi diri masing-masing. Serta terus mendorong semangat berprestasi kepada anak dan peserta didiknya sejak dini. “Semangat yang muncul dari anak adalah kekuataan baru  untuk membangun Banyuwangi. Ke depan, generasi penerus ini harus terus kita dukung agar mampu bersaing dalam kompetisi global,” ujar Bupati Anas.
Selain itu, Bupati Anas juga meminta orang tua dan guru terus meningkatkan kewaspadaan terhadap anak-anak, mengingat maraknya tindak kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini. “Prestasi harus terus jalan, tetapi anak-anak harus bisa menjaga diri, jauhi pergaulan yang tidak baik. Selalu jalin kedekatan dengan orang tua dan guru,” kata Anas.  
Porseni 2016 ini diikuti sekitar  3.509 peserta, dengan 11 cabang olah raga dan  enam bidang kesenian.  Cabor tersebut antara lain atletik, bulu tangkis, pencak silat, renang, tenis meja, tenis lapangan, bola volley mini, catur, senam dan sepak takraw. Sedangkan dari bidang kesenian ada penampilan defile/kontingen, olah musik tradisional, paduan suara, kreasi tari, seni mematung dan teater.

Smart Kampung Banyuwangi Gerakkan Ekonomi Lokal

Program ”Smart Kampung” berbasis desa yang digagas oleh Pemkab Banyuwangi efektif dalam menggerakkan ekonomi lokal, terutama warga desa. Instrumen teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mampu mendorong kreativitas warga dalam melakukan kegiatan ekonomi produktif.

”Kami memang sengaja mengusung program Smart Kampung, bukan Smart City karena memang tantangan kami ada di kampung-kampung. Ada dua tantangan utamanya, yaitu infrastruktur termasuk infrastruktur TIK yang masih minim dan kapasitas SDM yang perlu ditingkatkan. Hal ini berbeda dengan kota besar yang infrastruktur dan SDM-nya sudah sangat oke,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dihubungi usai menjadi pembicara dalam Festival Nasional yang bertajuk Smart Money Smart City yang digagas oleh Bank Indonesia di ruang eksibisi Golf Driving Senayan, Jakarta, Jumat (3/6).
Program ”Smart Kampung” baru saja diluncurkan oleh Menkominfo Rudiantara pada Selasa lalu (31/5). Di Banyuwangi telah ada 41 desa/kelurahan yang menjadi pilot project ”Smart Kampung” dan saat ini sedang disiapkan untuk 176 desa lainnya. ”Smart Kampung” adalah program pengembangan desa terintegrasi yang memadukan antara penggunaan TIK berbasis serat optik, kegiatan ekonomi produktif, kegiatan ekonomi kreatif, peningkatan pendidikan-kesehatan, dan upaya pengentasan kemiskinan.
Terdapat tujuh kriteria ”Smart Kampung”, yaitu pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan, pengembangan pendidikan dan seni-budaya, peningkatan kapasitas SDM, integrasi pengentasan kemiskinan, dan melek informasi hukum. Semua kriteria tersebut diturunkan ke program yang menyentuh kepentingan publik. TIK dijadikan pendorong untuk menjalankan program sesuai tujuh kriteria tersebut.
”Contohnya, UMKM di desa diberi pelatihan teknis yang nantinya pemasaran bisa berbasis online di situs belanja UMKM banyuwangi-mall.com. Smart Kampung juga jadi instrumen untuk mempercepat inklusi keuangan alias membuat warga makin melek keuangan yang akan disinergikan dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujarnya.
Anas menambahkan, kriteria pemberdayaan ekonomi dalam program ”Smart Kampung” menjadikan balai desa sebagai pusat ekonomi produktif yang difasilitasi pelatihan dan pemasarannya oleh pemerintah daerah, seperti batik dan produk olahan pertanian. ”Tentu jenis produknya menyesuaikan potensi lokal masing-masing kampung,” ujar dia.
Dengan ”Smart Kampung”, Anas berharap warga tak lagi minder karena semua pelayanan berbasis desa bisa menjawab kebutuhan warga. Dengan program ini, warga kampung bisa semakin termotivasi untuk maju. Yang pelajar bisa mengakses internet untuk menambah wawasan, yang UMKM bisa browsing untuk tahu tren produk, yang bergerak di pertanian bisa akses berbagai problem dan solusi pertanian, dan sebagainya. Istilahnya, bolehlah kami tinggal di kampung, tapi dekat dengan dunia,” papar Anas.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPM-PD) Suyanto Waspotondo menggarisbawahi perlunya kampung-kampung dialiri internet, bahkan harus yang berbasis serat optik. Oleh karena itu, tambahan alokasi dana desa (ADD) dari Pemkab Banyuwangi bakal dialokasikan untuk membeli bandwidth  di desa-desa. Pembelian bandwidth itu diatur dalam APBDes masing-masing desa.
”Ini juga bagian untuk menunjang pelayanan. Misalnya yang sudah jalan sejak lama adalah program Lahir Procot Pulang Bawa Akta Kelahiran. Asal disiapkan nama dan dokumen lengkap, begitu anak lahir, akta kelahiran bisa terbit. Biarkan berkasnya yang berjalan di kabel, bukan orangnya. Orangnya bisa hemat waktu, yang bisa digunakan untuk bekerja di sawah, mengolah buah, membuat batik, belajar bahasa, berkesenian, dan sebagainya. Sehingga, makin banyak warga produktif tanpa harus tersita untuk urusan administrasi,” kata Yayan, sapaan Suyanto.
Anas menambahkan, program ”Smart Kampung” bisa semakin mendorong ekonomi lokal, termasuk mengerek pendapatan per kapita warga. Dalam lima tahun terakhir, pendapatan per kapita warga Banyuwangi sudah naik 80 persen dari Rp 20,8 juta per orang per tahun pada 2010 menjadi Rp 37,53 juta per tahun pada 2015.
”Indeks ketimpangan atau gini ratio juga sudah turun menjadi 0,29. Meski demikian, problem kemiskinan tetap ada. Ada sebagian warga yang belum masuk dalam gairah peningkatan ekonomi ini. Banyak faktor penyebabnya. Mereka tidak ditinggal. Kami terus berupaya dengan program-program berkelanjutan, termasuk Smart Kampung ini,” pungkas Anas.

Bali Akan Dipadukan Dengan Konsep Wisata,Jalur Listrik Banyuwangi

Rencana pembangunan jalur listrik yang menghubungkan Banyuwangi-Bali (Bali Crossing) akan segera direalisasikan. Menariknya, pembangunan Bali Crossing yang bertempat di kawasan Watu Dodol itu, akan dikombinasikan dengan wisata edukasi. Jalur listrik yang membentang sejauh 2,68 KM itu akan ditopang dengan dua tower. Tower yang pertama akan dibangun di Watu Dodol, Wongsorejo dan  satu lagi dibangun di Segara Rupet, Taman Nasional Bali Barat. Masing-masing tower sendiri menjulang setinggi 376 Meter. Pembangunan yang ditargetkan selesai pada akhir 2018 tersebut, bertujuan untuk menunjang suplai listrik dari Jawa ke Bali, maupun sebaliknya. "Nanti ini akan dibuat dua jalur. Jadi, selain dari Jawa ke Bali, juga bisa sebaliknya. Saat di Banyuwangi kekurangan pasokan listrik, juga akan dipasok dari Bali," papar Direktur Bisnis PLN untuk Jawa Timur dan Bali Amin Subekti pada saat bertemu dengan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di lounge Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi, Kamis (2/6). Sementara itu, Bupati Anas meminta pihak PLN dalam membangun infrastruktur fisik memiliki fungsi ganda. Selain sebagai bangunan infrastruktur sendiri, juga bisa difungsikan sebagai obyek wisata contohnya. "Pembangunan ini tidak hanya dalam perspektif industri saja, namun juga harus memperhatikan sisi humanisnya, misalnya dengan membangun daerah wisata di sekitarnya," pinta Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada PLN. Gagasan Bupati Anas tersebut, disambut antusias oleh Direktur PLN Amin Subekti. "Ini ide menarik. Tower ini lebih tinggi dari Menara Eifell di Paris, tentu, akan menarik bagi wisatawan jika bangunannya bisa kami kemas," sambut Amin atas gagasan Bupati Anas. Anas pun mengusulkan agar di bagian bawah tower juga bisa dilengkapi semacam museum energi yang menjadu wahana pendidikan tentang berbagai proses dan pemanfaatan listrik. "Setiap akhir pekan bisa penuh dengan anak sekolah," harap Bupati Anas. Kunjungan Amin sendiri, selain meminta dukungan akan dibangunnya jalur listrik tersebut kepada Pemda Banyuwangi, ada pula beberapa agenda kelistrikan yang lain. PLN berencana menambah 500 Kv listrik ke Banyuwangi yang dialirkan langsung dari PLTU Paiton, Probolinggo. Penambahan listrik tersebut, menurut Amin, untuk mensuplai geliat perekonomian yang tumbuh serta dibukanya beberapa industri di Banyuwangi. "Dalam pantauan kita, Banyuwangi butuh tambahan pasokan listrik," papar Amin. Selain itu, imbuh dia, kedatangannya di sini untuk memenuhi janji Menteri BUMN Rini Soemarno yang akan mendukung upaya pengurangan kemiskinan di Banyuwangi lewat pemenuhan kebutuhan listrik. PLN telah melakukan pemetaan terhadap 1.200 kepala keluarga miskin yang belum teraliri listrik. "Kita akan membaginya dalam berdasarkan skala prioritas untuk diselesaikan secara bertahap," janji Amin.

Senin, 30 Mei 2016

Pemkab Banyuwangi Gelar Pasar Murah,Jelang Ramadhan

Selain operasi pasar sembako, menjelang bulan Ramadhan 2016 ini pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga menggelar pasar murah. Tak hanya sembako, sejumlah komoditas lain seperti sirup, kue kaleng, pakaian jadi dan batik akan dijual lebih murah dari harga pasar dan toko.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Hary Cahyo Purnomo mengatakan, pasar murah ini akan digelar mulai 8 Juni – 5 Juli 2016. “Kami akan buka setiap hari mulai pukul 08.30 – 13.00 WIB,” kata Hary.
Ditambahkan Hary, pasar murah ini dilakukan untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan selama puasa dan lebaran dengan harga terjangkau. Dalam pasar murah tersebut, Disperindagtam akan menyediakan sembako dan keperluan lain untuk menghadapi lebaran. Seperti sirup, kue kaleng, pakaian jadi dan batik. Semua produk tersebut akan dijual dengan harga pabrik yang dipastikan lebih murah dari harga pasar dan toko.
“Dengan demikian lonjakan harga yang seringkali dipicu oleh naiknya permintaan barang bisa diminimalisir sejak awal.  Pasar murah ini hasil kerja sama antara pemkab dengan PT. Pertani, distributor  sembako, toko modern dan AKRAB,” ujar Hary.
Disperindagtam akan mendirikan stand pasar murah di areal parkir kantor Disperindagtam dan tujuh lokasi lainnya yang tersebar di delapan kecamatan. Yakni di lapangan Kecamatan Giri, halaman kantor Kelurahan Kalipuro, balai Kecamatan Wongsorejo dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Maron, Genteng. Tiga lokasi lainnya adalah di dalam pasar Sumber Beras, Muncar; pasar Singojuruh dan pasar Sempu.
“Kegiatan ini akan kita awali dari areal parkir kantor Disperindagtam pada tanggal 8-12 Juni mendatang. Selanjutnya akan digelar secara bergiliran di 7 lokasi lainnya sesuai jadwal,” ujar Hary.  
Selain hal di atas, Disperindagtam juga berencana akan menggelar pasar murah khusus gula pasir bekerja sama dengan Perusahaan Pedagang Indonesia (PPI). “Untuk jadwal pelaksanaan dan jumlah stok gula yang akan dijual, kami belum bisa memastikannya.  Kami masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari PPI,” terang Hary.
Sekedar diketahui, operasi pasar sembako yang awalnya dijadwalkan akan digelar mulai 1-30 Juni mendatang. Pelaksanaannya dimajukan lima hari lebih awal sejak 27 Mei 2016. “Penambahan alokasi operasi pasar ini akan digelar di Gedung Djuang, mulai 27 Mei – 1 Juni mendatang. Pelaksanaan berikutnya akan dilakukan sesuai jadwal,” pungkas Hary. (Humas)

Wayang Kulit Ki Rudi Gareng-Wahyu Godho Inten,Sinden Purborini Bwi Festival 2016

Pagelaran wayang kulit selalu menjadi agenda rutin di Banyuwangi Festival. Tahun 2016 ini, Banyuwangi Festival menghadirkan Dalang kondang dari Kota Blitar Jawa Timur, Ki Rudi Gareng. Ki Rudi, akan unjuk kebolehannya selama semalam suntuk di Lapangan Untung Suropati, Kecamatan Muncar, Minggu (29/5).

VIDEO =https://www.youtube.com/watch?v=ARbO2hYk1HU
Dalam performnya dalang terbaik se Jawa Timur ini, akan memuaskan pecinta wayang kulit Banyuwangi dengan lakon  “Wahyu Godo Inten". Dikatakan Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, MY Bramuda, lakon ini  sengaja dipilih untuk memberikan sekilas gambaran tentang bagaimana seorang pemimpin yang berjuang dengan suka rela demi kesejahteraan tanah airnya.
Godo Inten, adalah senjata atau pusaka yang menewaskan penjahat. Perang ini terjadi antara Wisanggeni melawan Bethari Durga dan Kala yang akhirnya tewas dengan Pusaka Gada Inten. Perang ini untuk membantu mewujudkan kejayaan Pandawa. Dengan sukarela Raden Wisanggeni berkorban nyawa demi kemenangan Pandawa.

“Secara singkat, Wahyu Godo Inten berkisah bagaimana pengorbanan para Pandawa atau pemimpin negeri Astina yang ingin mempertahankan tanah airnya dari kekuasaan para Kurawa yang masih bersikukuh menguasainya. Perjuangan Pandawa tak sendiri, demi mewujudkan kebenaran di atas bumi, Sri Kresna dan Raden Wisanggeni ikut membantu Pandawa,” terang Bramuda.
Festival Wayang Kulit ini digelar sebagai salah satu sarana untuk melestarikan kesenian Jawa. "Selain Using, di Banyuwangi suku Jawa juga dominan, khususnya di wilayah selatan Banyuwangi. Dari rangkaian B-Fest kami mengakomodir  gelaran-gelaran yang mewakili sejumlah kebudayaan setempat. Wayang ini salah satunya," kata Bramuda.
Lebih jauh, kata Bramuda, permainan wayang kulit ini mengandung filosofi dan makna yang dalam dari setiap lakon yang dimainkan dalang. “Untuk itu kami selalu menghadirkan wayang kulit untuk menceriterakan lakon yang bisa menjadi tauladan dan contoh. Ki Rudi Gareng ini akan tampil semalam suntuk dengan sabetan-sabetan yang tak kalah hebat dari dalang kondang lainnya. Dipastikan para pecinta wayang kulit akan terpuaskan dengan dalang dari kota Blitar ini,” kata Bramuda.
Saat perform nanti, Ki Rudi Gareng akan memainkan ceritanya dengan ditemani Sinden fenomenal dan joss tenan “Purborini” dan limbukannya akan diramaikan dengan lawakan Kenthus. “Dipastikan pecinta wayang akan puas dengan guyonan dan cerita dari Ki Rudi Gareng. Ki Rudi akan akan mulai pukul 20.00 WIB, dan berakhir menjelang subuh,” pungkas Bramuda. (Humas)

Menkominfo Luncurkan "Smart Kampung" Banyuwangi

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dijadwalkan akan meluncurkan program "Smart Kampung" di Kabupaten Banyuwangi, Selasa (31/5/2016).

Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Banyuwangi Juang Pribadi mengatakan, Menkominfo Rudiantara dijadwalkan tiba di Bandara Blimbingsari Banyuwangi Selasa siang, dan langsungakan menuju lokasi launching program Smart Kampung di Lapangan Perkebunan Kalibendo, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
"Secara simbolis, Menteri Rudi akan merilis program Smart Kampung yang digagas oleh Pemkab Banyuwangi," ujar Juang.
"Smart Kampung" sendiri adalah program yang digagas Pemkab Banyuwangi untuk meningkatkan kualitas layanan publik di desa-desa. Program ini mendesain desa sebagai pusat kreativitas warga yang menggabungkan antara kegiatan ekonomi produktif, ekonomi kreatif, dan instrumen teknologi informasi.
"Desa yang telah memenuhi kriteria "Smart Kampung" juga telah ditunjang oleh pelayanan berbasis teknologi informasi. Jadi tidak perlu diurus ke kota. Untuk tahap awal, kami luncurkan 41 desa/kelurahan "Smart Kampung". Tahun depan kami targetkan semua desa sudah memenuhi kriteria ini. Bagi Banyuwangi, Smart Kampung penting warga yang tinggal di desa-desa akan sangat dimudahkan," imbuh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Juang menambahkan, seusai meluncurkan program tersebut, Rudiantara akan meninjau salah satu desa sebagai pilot project program, yakni Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Rudiantara akan melihat langsung dari dekat program Smart Kampung yang telah dilakukan di desa tersebut, sekaligus juga akan berdialog dengan warga desa setempat.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPM-PD) Suyanto Waspotondo mengatakan program Smart Kampung adalah program untuk menuju peningkatan peran pemerintah desa yang lebih besar. Pemerintah desa akan dioptimalkan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengelola sumber daya desanya secara efektif, efisien, dan berkelanjutan.
"Program ini kami gagas salah satunya untuk mendekatkan pelayanan publik hingga ke level desa. Saat ini baru ada 23 desa dan 18 kelurahan yang menjadi pilot project Smart Kampung. Namun bertahap, seluruh desa dan kelurahan di Banyuwangi akan bertransformasi menjadi Smart Kampung," ujar Yayan sapaan akrabnya.
Selain memberi kemudahan dalam pelayanan publik, Smart Kampung juga menjadi pusat pengembangan potensi yang dimiliki oleh tiap desa. Mulai budaya, kesenian, pertanian, ekonomi kreatif, pariwisata, pendidikan hingga kesehatan bagi warga desa.
Di Smart Kampung,  balai desa juga dikembangkan sebagai pusat aktivitas warga. Balai desa akan menjadi ruang publik yang bisa dimanfaatkan warga untuk melakukan beragam kegiatan, mulai dari les kesenian, posyandu, hingga temu warga.

"Balai desa akan dibuat senyaman mungkin untuk memberikan fasilitas terbaik bagi warga. Di setiap desa cerdas, balai desa wajib dilengkapi wifi gratis untuk bisa dipergunakan warganya. Anak-anak yang pulang sekolah bisa les kesenian atau kursus bahasa di sini, mengerjakan PR pun di balai desa karena ada internetnya. Perpustakaan juga kami wajibkan hadir di balai desa. Harapan kami, balai desa  bisa berfungsi pula sebagai rumah kreatif warga” pungkas Yayan. (humas)

Wisata Pulau Merah Raih Penghargaan Penyumbang Pajak Terbaik

Wisata Pulau Merah Banyuwangi berhasil menjadi penyumbang pajak terbaik tahun 2015. Pada periode 2015 hingga Maret 2016, obyek wisata bahari ini telah menyetorkan pajak sebesar Rp. 251,3 juta kepada pemerintah daerah. Pemkab Banyuwangi pun memberikan reward kepada pengelola Pantai Pulau Merah saat acara gathering wajib pajak, di aula hotel Ketapang Indah, Senin (30/5).

VIDEO = https://www.youtube.com/watch?v=kUH3joqpjCc
Reward ini diserahkan langsung Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Slamet Kariyono kepada perwakilan Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Jasa Lingkungan Perhutani wilayah Jatim, Rohman, sebagai pengelola wisata pantai yang berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.
“Pulau Merah menjadi contoh bagaimana sebuah obyek lokasi yang dikelola dengan baik bisa menjadi salah satu penyokong pembangunan, lewat pajak yang dibayarkan. Kami berharap, Pulau Merah menjadi contoh bagi pengelola obyek wisata lain di Banyuwangi untu taat mebayarkan pajak,” ujar Sekkab.
Dikatakan Sekkab, Pulau Merah layak mendapat penghargaan pembayar pajak terbaik kategori tempat rekreasi dan kolam renang ini karena obyek wisata ini dikelola dengan baik, mulai dari manajemen dan pelaporan keuangannya. Selain juga, lanjut Sekkab, setoran pajak Pulau Merah ini sesuai dengan perhitungan yang dilakukan oleh tim pajak daerah.
“Yang disetorkan Pulau Merah, menurut kami telah sesuai antara hasil perhitungan pihak pengelola dengan evaluasi dari tim kami,” ujar Sekkab.  
Selain Pulau Merah, wajib pajak lain yang mendapatkan reward adalah Hotel Santika, Hotel Ketapang Indah, restoran KFC Roxy Mall, rumah makan pecel ayu, warung mie nyonyor, karaoke mendut, dan New Star Cineplex.
Reward ini juga diberikan kepada tiga desa dan dua kecamatan yang tercepat melunasi pajaknya. Ketiga desa tersebut, Desa Sumbergondo dan Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore; serta Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. Juga kecamatan Tegaldlimo dan Purwoharjo.
Sekkab Slamet mengatakan, reward ini diberikan sebagai bentuk apresiasi pemerintah daerah kepada para wajib pajak. Dengan melunasi pajaknya lebih cepat dan tepat waktu, otomatis mereka telah ikut berpartisipasi membangun Banyuwangi. Seperti terbangunnya infrastruktur dan fasilitas umum. “Kami bangga dengan kontribusi para pengusaha dalam pembangunan daerah,” kata Sekkab Slamet.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendapatan Daerah Banyuwangi, Fajar Suasana menambahkan, beberapa tahun terakhir capaian target penerimaan asli daerah (PAD) Banyuwangi yang salah satunya dari pajak memang telah melampaui target. Sebut saja di tahun 2013 lalu Pemkab berhasil mengumpulkan perolehan PAD dari target Rp. 171,6 miliar terealisasi Rp. 183,02 miliar atau tercapai sebesar 106,6 persen. Tahun 2014 dari target Rp. 225, 1 miliar terealisasi Rp. 283, 3 miliar atau tercapai sebesar 125, 86 persen. Selanjutnya, di tahun 2015 dari target Rp. 303,2 miliar terealisasi Rp. 346,7 miliar atau tercapai sebesar 144,3 persen. Dan sampai dengan bulan Maret tahun 2016 ini capaian PAD dari target Rp. 307,1 miliar telah terkumpul Rp. 112,1 miliar atau sudah tercapai 36,52 persen.
“Capaian PAD yang cukup tinggi, jangan sampai membuat lengah. Kita tetap harus melakukan evaluasi terhadap potensi pajak yang masih bisa digarap secara maksimal. Sehingga capaian pajak kita semakin meningkat, ini juga atas usulan dari BPK.  Menurut BPK, Banyuwangi masih harus bekerja keras untuk menggarap potensi-potensi pajak yang saat ini masih belum tersentuh,” ujar Fajar.
Untuk memaksimalkan perolehan PAD, pemerintah akan menggenjot dari sektor pajak hotel dan restoran, hingga warung dan tempat wisata yang mulai ramai dikunjungi wisatawan. Sebab, penerimaan dari sektor di atas saat ini masih belum maksimal.  Ke depan pemerintah akan menerapkan tax monitor yang dipasang di sejumlah hotel dan restoran. Tax monitor ini sejenis sistem yang langsung terkoneksi dengan server Dispenda, yang fungsinya untuk memonitor pendapatan riil hotel maupun restoran. “Sehingga tidak ada alasan bagi hotel atau restoran tidak membayarkan pajak sesuai data yang ada,” pungkas Fajar. (Humas )