Ajang balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI)
kembali digelar pada 11-14 Mei 2016. Lomba balap sepeda yang masuk
agenda rutin Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste
Internationale/UCI) ini didukung penuh Kementerian Pariwisata.
VIDEO = https://www.youtube.com/watch?v=RMz589VEnmk
Hal itu ditegaskan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya saat
melaunching ITdBI di Kantor Kemenpar Jakarta, Senin (28/3). Dukungan
dari Kemenpar diwujudkan dalam bentuk promosi event dan dukungan
penyelenggaraan.
"Bila tahun lalu kami membantu promosinya, pada tahun ini kami
menambahnya dengan melipatkan hadiah bagi pembalap. Yang semula daerah
hanya Rp 700 juta, maka kami menambahnya menjadi total Rp 1,5 miliar"
ujar Arief Yahya.
Menurut Arief, sokongan untuk hadiah pemenang lomba ini penting
karena besar kecilnya hadiah ini akan berpengaruh pada prestise suatu
kejuaraan. Digelar sejak 2012, ajang balap sepeda kategori 2.2 ini telah
mendapatkan peringkat ”excellent" dari UCI. Ini menjadikan ITdBI
sebagai kejuaraan balap sepeda terbaik di Indonesia.
Lomba yang diadakan pemkab Banyuwangi ini mengusung konsep sport
tourism. Membalut pariwisata dengan olahraga ini menjadi salah satu
andalan Banyuwangi untuk mengungkit kunjungan wisata. Untuk itu, masih
menurut Arief, pihaknya merasa perlu memberikan dukungan terhadap event
sport tourism ini.
"Media value dari event ini akan menimbulkan repeater yang dasyat
hingga dampaknya menimbulkan awareness bagi calon wisatawan terhadap
potensi kekayaan wisata dan budaya Banyuwangi," ujar Arief.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan ITdBI
tahun ini aroma turisme-nya semakin kuat karena mengenalkan dua
destinasi wisata baru Banyuwangi. "Waduk Sidodadi di Glenmore dan Pantai
Grand New Watudodol akan menjadi daya tarik baru wisata di Banyuwangi,"
jelas Anas.
ITdBI terdiri atas empat etape dengan panjang rute 567 kilometer.
Rute ini ditempuh dengan melintasi berbagai destinasi wisata, mulai
wisata pantai, perkebunan, hingga finish di kaki Gunung Ijen, gunung
berapi aktif yang terkenal di dunia dengan fenomena api biru alias ”Blue
Fire”-nya. Lokasi finish di kaki Gunung Ijen merupakan tanjakan
terekstrem karena berada di ketinggian 1.871 meter di atas permukaan
laut (mdpl) dengan kemiringan 45 derajat, di atas tanjakan Malaysia yang
hanya 1.500 mdpl. Sejumlah
tim papan atas Asia dipastikan turut bertanding dalam tahun ini.
Pishgaman Giant Team, Skydive Dubai Al Ahli, Tabriz Shadari Team yang
merupakan juara 1, 2, 3 Asia. "Pembalap daratan Eropa pun telah
memastikan akan berlaga di ITdBI. Antara lain timnas San Marino dan
Ireland National Team," kata Anas. (Humas)
Selasa, 29 Maret 2016
Menteri LHK Siapkan Pembangunan Infrastruktur Menuju TN Alas Purwo
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengunjungi
Banyuwangi, Minggu (27/3). Kunjungan kerja ini bertujuan meninjau Taman
Nasional (TN) Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, menyusuli
ditetapkannya kawasan tersebut sebagai Cagar Biosfer dunia oleh
Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Budaya Perserikatan Bangsa-bangsa
(The United Nations Educational, Scientific and Cultural
Organization/UNESCO).
VIDEO = https://www.youtube.com/watch?v=boBSr88tXH0
Setiba di Banyuwangi, Menteri Siti Nurbaya langsung menuju TN Alas Purwo. Dalam perjalanan yang hampir dua jam tersebut, Siti Nurbaya terpesona dengan beragam potensi keindahan alam yang terdapat di Alas Purwo.
Destinasi pertama yang dituju adalah Sadengan. Sadengan adalah padang savana tempat habitat banteng, rusa dan beberapa hewan liar lainnya. Saat berada di Sadengan, Siti yang kagum keindahan padang savana ini langsung berjanji akan mengembangkan kawasan ini.
Siti Nurbaya pun akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Pariwisata untuk memaksimalkan potensi Alas Purwo. Bentuk kordinasi tersebut adalah dengan menyiapkan pembangunan infrastruktur dan pengembangan pariwisata. “Kita akan segera berkoordinasi dengan kementerian PU dan kementerian pariwisata untuk pembangunan infrastruktur jalan, spring water dan pengembangan wisatanya,” papar Siti Nurbaya.
Cagar Biosfer Blambangan meliputi kawasan seluas 678.947,36 Ha yang terbagi ke dalam 3 zona yaitu area inti seluas 127.855,62 Ha yang meliputi 4 kawasan konservasi terdiri atas 3 Taman Nasional (TN Alas Purwo, TN Baluran, dan TN Meru Betiri) dan satu Cagar Alam Kawah Ijen; zona penyangga seluas 230.277,4 Ha; dan area transisi (320.814.34 Ha).
Penetapan ini dilakukan pada sidang International Coordinating Council (ICC) Program MAB (Man and The Biosphere) UNESCO ke28 di Kota Lima, Peru, 18-20 Maret 2016 lalu. Lebih lanjut, Siti menjelaskan, bahwa pola pembangunan infrastruktur dan pengembangan pariwisata akan tetap memperhatikan aturan yang berkaitan dengan wilayah konservasi. “Agenda konservasi kan tidak hanya pelestarian lingkungan, tapi peningkatan ekonomi dan pariwisata perlu untuk dikembangkan,” ungkap Siti. “Aturan-aturan tentang konservasi jelas kita perhatikan. Pengembangannya tetap berkelanjutan,” imbuhnya.
Rencana pengembangan TN Alas Purwo, menurut Siti, merupakan rencana kedua setelah sebelumnya di pengembangan potensi ekonomi dan pariwisata di TN Ujung Kulon. “Tujuh bulan yang lalu, kita mulai mengembangkan (ekonomi dan wisata) di Ujung Kulon. Sekarang kita menjajaki di Alas Purwo ini,” aku Siti.
Tak banyak taman nasional mendapat perhatian untuk pengembangan ekonomi dan pariwisata seperti di TN Alas Purwo. Dari sekitar 51 taman nasional di seluruh Indonesia, hanya dua taman nasional yang baru akan dikembangkan oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup tersebut. “Ada 51 taman nasional di seluruh Indonesia. Namun karena keterbatasan dana, tak bisa semua dibangun,” ungkap Siti.
Sebagaimana diketahui, Alas Purwo menyimpan potensi keindahan alam dan budaya yang luar biasa. Selain padang savana Sadengan dengan keanekaragaman fauna langkanya, Alas Purwo juga menyimpan keindahan pantai yang luar biasa. Salah satunya adalah pantai Plengkung yang menjadi surga para peselancar dunia. Keberadaan Pura Alas Purwo dan gua di kawasan Alas Purwo juga menjadi daya tarik kunjungan wisata spiritual.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut positif rencana menteri Siti Nurbaya untuk membangun infrastruktur di TN Alas Purwo. “Selama ini banyak wisatawan yang komplain dengan kondisi jalan yang rusak menuju Pantai Pelengkung dan Alas Purwo ini. Tapi kewenangan izin untuk membangun berada di kementerian kehutanan. Jadi, kita senang dengan rencana bu menteri (siti nurbaya) yang akan membangun infrastruktur disini,” ungkap Anas.
Banyuwangi sendiri sedang getol-getolnya untuk membangun ecotourism, wisata alam berbasis ekologi. Pantai Pelengkung yang berada di kawasan TN Alas Purwo ini merupakan bagian dari triangle diamond pariwisata andalan Banyuwangi selain Kawah Ijen dan Sukomade. Sebelum meninggalkan Alas Purwo, Siti Nurbaya menyempatkan diri untuk melakukan pelepasan tukik di Pantai Pancur yang juga berada di kawasan TN Alas Purwo. (humas
VIDEO = https://www.youtube.com/watch?v=boBSr88tXH0
Setiba di Banyuwangi, Menteri Siti Nurbaya langsung menuju TN Alas Purwo. Dalam perjalanan yang hampir dua jam tersebut, Siti Nurbaya terpesona dengan beragam potensi keindahan alam yang terdapat di Alas Purwo.
Destinasi pertama yang dituju adalah Sadengan. Sadengan adalah padang savana tempat habitat banteng, rusa dan beberapa hewan liar lainnya. Saat berada di Sadengan, Siti yang kagum keindahan padang savana ini langsung berjanji akan mengembangkan kawasan ini.
Siti Nurbaya pun akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Pariwisata untuk memaksimalkan potensi Alas Purwo. Bentuk kordinasi tersebut adalah dengan menyiapkan pembangunan infrastruktur dan pengembangan pariwisata. “Kita akan segera berkoordinasi dengan kementerian PU dan kementerian pariwisata untuk pembangunan infrastruktur jalan, spring water dan pengembangan wisatanya,” papar Siti Nurbaya.
Cagar Biosfer Blambangan meliputi kawasan seluas 678.947,36 Ha yang terbagi ke dalam 3 zona yaitu area inti seluas 127.855,62 Ha yang meliputi 4 kawasan konservasi terdiri atas 3 Taman Nasional (TN Alas Purwo, TN Baluran, dan TN Meru Betiri) dan satu Cagar Alam Kawah Ijen; zona penyangga seluas 230.277,4 Ha; dan area transisi (320.814.34 Ha).
Penetapan ini dilakukan pada sidang International Coordinating Council (ICC) Program MAB (Man and The Biosphere) UNESCO ke28 di Kota Lima, Peru, 18-20 Maret 2016 lalu. Lebih lanjut, Siti menjelaskan, bahwa pola pembangunan infrastruktur dan pengembangan pariwisata akan tetap memperhatikan aturan yang berkaitan dengan wilayah konservasi. “Agenda konservasi kan tidak hanya pelestarian lingkungan, tapi peningkatan ekonomi dan pariwisata perlu untuk dikembangkan,” ungkap Siti. “Aturan-aturan tentang konservasi jelas kita perhatikan. Pengembangannya tetap berkelanjutan,” imbuhnya.
Rencana pengembangan TN Alas Purwo, menurut Siti, merupakan rencana kedua setelah sebelumnya di pengembangan potensi ekonomi dan pariwisata di TN Ujung Kulon. “Tujuh bulan yang lalu, kita mulai mengembangkan (ekonomi dan wisata) di Ujung Kulon. Sekarang kita menjajaki di Alas Purwo ini,” aku Siti.
Tak banyak taman nasional mendapat perhatian untuk pengembangan ekonomi dan pariwisata seperti di TN Alas Purwo. Dari sekitar 51 taman nasional di seluruh Indonesia, hanya dua taman nasional yang baru akan dikembangkan oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup tersebut. “Ada 51 taman nasional di seluruh Indonesia. Namun karena keterbatasan dana, tak bisa semua dibangun,” ungkap Siti.
Sebagaimana diketahui, Alas Purwo menyimpan potensi keindahan alam dan budaya yang luar biasa. Selain padang savana Sadengan dengan keanekaragaman fauna langkanya, Alas Purwo juga menyimpan keindahan pantai yang luar biasa. Salah satunya adalah pantai Plengkung yang menjadi surga para peselancar dunia. Keberadaan Pura Alas Purwo dan gua di kawasan Alas Purwo juga menjadi daya tarik kunjungan wisata spiritual.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut positif rencana menteri Siti Nurbaya untuk membangun infrastruktur di TN Alas Purwo. “Selama ini banyak wisatawan yang komplain dengan kondisi jalan yang rusak menuju Pantai Pelengkung dan Alas Purwo ini. Tapi kewenangan izin untuk membangun berada di kementerian kehutanan. Jadi, kita senang dengan rencana bu menteri (siti nurbaya) yang akan membangun infrastruktur disini,” ungkap Anas.
Banyuwangi sendiri sedang getol-getolnya untuk membangun ecotourism, wisata alam berbasis ekologi. Pantai Pelengkung yang berada di kawasan TN Alas Purwo ini merupakan bagian dari triangle diamond pariwisata andalan Banyuwangi selain Kawah Ijen dan Sukomade. Sebelum meninggalkan Alas Purwo, Siti Nurbaya menyempatkan diri untuk melakukan pelepasan tukik di Pantai Pancur yang juga berada di kawasan TN Alas Purwo. (humas
Gunung Ijen Banyuwangi Masuk Jaringan Cagar Biosfer Dunia
Taman Wisata Alam Gunung Ijen dan Taman Nasional Alas Purwo di
Kabupaten Banyuwangi ditetapkan sebagai jaringan Cagar Biosfer dunia
oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Budaya Perserikatan
Bangsa-bangsa (The United Nations Educational, Scientific and Cultural
Organization/UNESCO).
Penetapan ini dilakukan pada sidang International Coordinating Council (ICC) Program MAB (Man and The Biosphere) UNESCO ke28 di Kota Lima, Peru, 18-20 Maret 2016 lalu.
VIDEO = https://www.youtube.com/watch?v=ApJvEb7wN_I
Kedua situs hayati ini tergabung dalam Cagar Biosfer Blambangan bersama dengan TN Meru Betiri dan TN Baluran yang letaknya juga beririsan dengan Banyuwangi. Cagar Biosfer (Biosphere Reserves) merupakan situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerja sama program MAB-UNESCO untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Komite Nasional Program MAB-UNESCO LIPI Indonesia Prof. Dr. Ir. Y. Purwanto mengatakan, Cagar Biosfer Blambangan sebelumnya diusulkan menjadi bagian dari jaringan Cagar Biosfer dunia pada 2015 lalu.
“Penetapan ini menunjukkan komitmen Indonesia, terutama daerah akan pentingnya upaya perlindungan sumber daya alam dan lingkungannya dalam kerangka pembangunan berkelanjutan,” kata Purwanto melalui keterangan lewat jaringan elektronik dari Lima, Peru, Selasa (22/3).
Purwanto melanjutkan, Cagar Biosfer Blambangan terpilih karena mampu memenuhi syarat sebagai bagian jaringan cagar biosfer dunia. “Di antaranya memiliki keunikan baik keanekaragaman hayati maupun budaya masyarakat lokalnya,” tutur Purwanto.
Dengan menjadi cagar Biosfer ada beberapa keuntungan yang didapatkan. Pertama, keuntungan ekologi di mana sumberdaya alam hayati dan budaya di dalam cagar biosfer terlindungi dan terkelola dengan baik.
“Selain itu keuntungan ekonomi di mana pengelolaan wilayah sekitar akan dikembangkan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Serta keuntungan sosial budaya dan capacity building untuk pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Cagar Biosfer Blambangan meliputi kawasan seluas 678.947,36 Ha yang terbagi ke dalam 3 zona yaitu area inti seluas 127.855,62 Ha yang meliputi 4 kawasan konservasi terdiri atas 3 Taman Nasional (TN Alas Purwo, TN Baluran, dan TN Meru Betiri) dan satu Cagar Alam Kawah Ijen; zona penyangga seluas 230.277,4 Ha; dan area transisi (320.814.34 Ha).
“Ini juga akan menjadi promosi yang strategis bagi daerah karena ada 120 negara yang menjadi anggota MAB-UNESCO yang setiap tahunnya melakukan pertemuan dan sharing tentang cagar budaya biosfer,” imbuh Purwanto. Konsep cagar biosfer sendiri telah digagas oleh UNESCO sejak 1971 dan hingga saat ini jumlahnya mencapai 669 kawasan di 120 negara di dunia.
Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut baik ditetapkannya Cagar Biosfer Blambangan ke dalam jaringan Cagar Biosfer Dunia. Hal ini menjadi nilai tambah bagi Banyuwangi yang mengangkat konsep ekoturisme (ecotourism) dalam pengembangan pariwisata.
“Program Cagar Biosfer selaras dengan komitmen kami dalam mengusung konsep pengembangan wisata yang menyuguhkan keindahan lingkungan. Ini juga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” imbuh Anas.
Pemkab Banyuwangi sendiri memiliki sejumlah program menjaga kelestarian alamnya, seperti Sedekah Oksigen. Lewat gerakan ini Pemkab Banyuwangi telah melakukan gerakan penanaman pohon secara masif dan pengembangan hayati di seluruh Banyuwangi. (humas)
Penetapan ini dilakukan pada sidang International Coordinating Council (ICC) Program MAB (Man and The Biosphere) UNESCO ke28 di Kota Lima, Peru, 18-20 Maret 2016 lalu.
VIDEO = https://www.youtube.com/watch?v=ApJvEb7wN_I
Kedua situs hayati ini tergabung dalam Cagar Biosfer Blambangan bersama dengan TN Meru Betiri dan TN Baluran yang letaknya juga beririsan dengan Banyuwangi. Cagar Biosfer (Biosphere Reserves) merupakan situs yang ditunjuk oleh berbagai negara melalui kerja sama program MAB-UNESCO untuk mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Komite Nasional Program MAB-UNESCO LIPI Indonesia Prof. Dr. Ir. Y. Purwanto mengatakan, Cagar Biosfer Blambangan sebelumnya diusulkan menjadi bagian dari jaringan Cagar Biosfer dunia pada 2015 lalu.
“Penetapan ini menunjukkan komitmen Indonesia, terutama daerah akan pentingnya upaya perlindungan sumber daya alam dan lingkungannya dalam kerangka pembangunan berkelanjutan,” kata Purwanto melalui keterangan lewat jaringan elektronik dari Lima, Peru, Selasa (22/3).
Purwanto melanjutkan, Cagar Biosfer Blambangan terpilih karena mampu memenuhi syarat sebagai bagian jaringan cagar biosfer dunia. “Di antaranya memiliki keunikan baik keanekaragaman hayati maupun budaya masyarakat lokalnya,” tutur Purwanto.
Dengan menjadi cagar Biosfer ada beberapa keuntungan yang didapatkan. Pertama, keuntungan ekologi di mana sumberdaya alam hayati dan budaya di dalam cagar biosfer terlindungi dan terkelola dengan baik.
“Selain itu keuntungan ekonomi di mana pengelolaan wilayah sekitar akan dikembangkan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Serta keuntungan sosial budaya dan capacity building untuk pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Cagar Biosfer Blambangan meliputi kawasan seluas 678.947,36 Ha yang terbagi ke dalam 3 zona yaitu area inti seluas 127.855,62 Ha yang meliputi 4 kawasan konservasi terdiri atas 3 Taman Nasional (TN Alas Purwo, TN Baluran, dan TN Meru Betiri) dan satu Cagar Alam Kawah Ijen; zona penyangga seluas 230.277,4 Ha; dan area transisi (320.814.34 Ha).
“Ini juga akan menjadi promosi yang strategis bagi daerah karena ada 120 negara yang menjadi anggota MAB-UNESCO yang setiap tahunnya melakukan pertemuan dan sharing tentang cagar budaya biosfer,” imbuh Purwanto. Konsep cagar biosfer sendiri telah digagas oleh UNESCO sejak 1971 dan hingga saat ini jumlahnya mencapai 669 kawasan di 120 negara di dunia.
Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut baik ditetapkannya Cagar Biosfer Blambangan ke dalam jaringan Cagar Biosfer Dunia. Hal ini menjadi nilai tambah bagi Banyuwangi yang mengangkat konsep ekoturisme (ecotourism) dalam pengembangan pariwisata.
“Program Cagar Biosfer selaras dengan komitmen kami dalam mengusung konsep pengembangan wisata yang menyuguhkan keindahan lingkungan. Ini juga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” imbuh Anas.
Pemkab Banyuwangi sendiri memiliki sejumlah program menjaga kelestarian alamnya, seperti Sedekah Oksigen. Lewat gerakan ini Pemkab Banyuwangi telah melakukan gerakan penanaman pohon secara masif dan pengembangan hayati di seluruh Banyuwangi. (humas)
Senin, 21 Maret 2016
Hadiri HUT ke- 232 Kelenteng Hoo Tong Bio, Bupati Anas Janji Support Pembangunan Klenteng
Kelenteng
ini berada tepat di tengah kota Banyuwangi yang dibangun oleh
orang-orang Tionghoa untuk menghormati leluhur mereka Kongco Tan Hu Cin
Jin. Hoo Tong Bio mempunyai makna kuil perlindungan chinese.
VIDEO Klenteng wil Bwi = https://www.youtube.com/watch?v=M3bZCbdIkwc
"Kongco Tan Hu Cin Jin dipercaya melindungi etnis Tionghoa saat mereka tinggal di Kerajaan Blambangan sebagai cikal bakal Kabupaten Banyuwangi. Kuil ini sendiri tercatat berdiri di tahun 1784," kata Ketua Panitia peringatan HUT, Suryo Utomo.
Suryo menjelaskan jika Kelenteng Hoo Tong Bio merupakan kelenteng terbesar dan tertua di wilayah Jawa Timur dan Bali. "Apalagi setiap ulang tahun seperti ini, banyak tamu dari kelenteng-kelenteng lain, karena kelenteng di sini dianggap ibu dari kelenteng lainnya seperti dari Buleleng, Jembrana, Tabanan, Probolinggo dan Situbondo," jelas Suryo.
Menurut Suryo, Tan Hu Cin Jin merupakan dewa lokal yang tidak ada di tempat lain. "Awalnya untuk menghormati Kongco dibangun kuil di wilayah Rogojampi sekitar 13 kilometer dari Banyuwangi kota lalu kemudian dipindahkan ke sini saat zaman kolonial," kata Suryo.
Kelenteng ini pun mempunyai tradisi unik sebagai penanda ulang tahunnya. Seperti yang diakukan Sabtu malam (19/3) kemarin. Mereka menggelar wayang kulit dengan dalang Ki Suyadi dari Sambirejo. Pagelaran Wayang kulit ini diadakan sebagai salah satu hiburan untuk masyarakat sekitar. Selain itu ada pula prosesi sembahyang yang mereka lakukan di Watu Dodol, lomba barongsai dan bakti sosial untuk masyarakat kurang mampu. (Humas & Protokol)
VIDEO Klenteng wil Bwi = https://www.youtube.com/watch?v=M3bZCbdIkwc
"Kongco Tan Hu Cin Jin dipercaya melindungi etnis Tionghoa saat mereka tinggal di Kerajaan Blambangan sebagai cikal bakal Kabupaten Banyuwangi. Kuil ini sendiri tercatat berdiri di tahun 1784," kata Ketua Panitia peringatan HUT, Suryo Utomo.
Suryo menjelaskan jika Kelenteng Hoo Tong Bio merupakan kelenteng terbesar dan tertua di wilayah Jawa Timur dan Bali. "Apalagi setiap ulang tahun seperti ini, banyak tamu dari kelenteng-kelenteng lain, karena kelenteng di sini dianggap ibu dari kelenteng lainnya seperti dari Buleleng, Jembrana, Tabanan, Probolinggo dan Situbondo," jelas Suryo.
Menurut Suryo, Tan Hu Cin Jin merupakan dewa lokal yang tidak ada di tempat lain. "Awalnya untuk menghormati Kongco dibangun kuil di wilayah Rogojampi sekitar 13 kilometer dari Banyuwangi kota lalu kemudian dipindahkan ke sini saat zaman kolonial," kata Suryo.
Kelenteng ini pun mempunyai tradisi unik sebagai penanda ulang tahunnya. Seperti yang diakukan Sabtu malam (19/3) kemarin. Mereka menggelar wayang kulit dengan dalang Ki Suyadi dari Sambirejo. Pagelaran Wayang kulit ini diadakan sebagai salah satu hiburan untuk masyarakat sekitar. Selain itu ada pula prosesi sembahyang yang mereka lakukan di Watu Dodol, lomba barongsai dan bakti sosial untuk masyarakat kurang mampu. (Humas & Protokol)
Lebih MAhir, Guide Banyuwangi Dilatih Agar Peroleh Sertifikat Legal
Banyuwangi terus mendorong kapasitas sumberdaya manusia (SDM)
pariwisatanya. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi meningkatkan
kualitas SDM para pramuwisata dengan menggelar pelatihan yang dilakukan
di Balai Desa Tamansari, Licin Banyuwangi mulai Senin (21/3) selama dua
hari.
Sebanyak 56 guide lokal dari Kecamatan Licin, Songgon, dan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi dilatih menjadi pramuwisata khusus taman wisata alam (TWA) Gunung Ijen. Para guide itu tak hanya dibekali pengetahuan cara mengantar wisatawan mendaki Kawah Gunung Ijen, namun bagaimana etika menjadi seorang pemandu.
Mereka juga diajari cara berkomunikasi yang luwes dengan turis. Tatkala Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas secara tidak sengaja berkunjung ke sana, salah seorang guide langsung menyapa Bupati Anas dengan Bahasa Prancis layaknya seorang turis.
"Bonjour. Mon nom est Robixs et je peux parler français . Merci, (selamat pagi, nama saya Robixs, dan saya bisa berbahasa Prancis sedikit-sedikit. Terimakasih)," kata Robixs.
Rofik "Robixs" adalah salah satu guide di TWA Ijen. Profesi guide dilakoninya sejak 2010. Kemahirannya dalam berbahasa Prancis diperoleh secara otodidak, karena terbiasa memandu turis Prancis, yang memang mendominasi turis asing yang berkunjung ke Kawah Ijen.
Robixs pun menjadikan guide sebagai profesi utamanya. Meski tidak setiap hari dia mendapatkan pesanan jasa. "Biasanya Januari sampai Maret gini sepi, paling 3 hari sekali baru ada permintaan. Kalau pas musimnya, setiap hari saya dapat order dari 3 travel yang jadi langganan saya," ujar pria asal Desa Tamansari, Licin ini.
Para guide yang memperoleh pembekalan dari DPD Himpunan Pramuwisata ini juga dilatih berkomunikasi Bahasa Inggris. Mereka pun langsung mempraktekkan dengan sesama teman tanpa rasa canggung. "Can you explain to me about Ijen?" "Ijen is volcano with two thousand and four hundred. You can see blue fire at night"
Melihat para guide itu berinteraksi dalam bahasa asing, Bupati Anas mengaku sangat senang dan bangga. Karena para guide Gunung Ijen ini rata-rata awalnya berprofesi sebagai penambang belerang. Seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke Ijen, maka banyak para penambang belerang yang dulunya hanya mengandalkan kekuatan fisik, kini memiliki ketrampian lebih untuk pendapatannya sehari-hari,
"Ini adalah salah satu upaya kami menciptakan SDM yang berkualitas ke depan. Mereka dilatih agar lebih mahir, dan juga mendapatkan sertifikasi guide. Ini tentunya juga membuat wisatawan lebih nyaman karena guidenya resmi," ujar Anas. (humas)
Sebanyak 56 guide lokal dari Kecamatan Licin, Songgon, dan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi dilatih menjadi pramuwisata khusus taman wisata alam (TWA) Gunung Ijen. Para guide itu tak hanya dibekali pengetahuan cara mengantar wisatawan mendaki Kawah Gunung Ijen, namun bagaimana etika menjadi seorang pemandu.
Mereka juga diajari cara berkomunikasi yang luwes dengan turis. Tatkala Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas secara tidak sengaja berkunjung ke sana, salah seorang guide langsung menyapa Bupati Anas dengan Bahasa Prancis layaknya seorang turis.
"Bonjour. Mon nom est Robixs et je peux parler français . Merci, (selamat pagi, nama saya Robixs, dan saya bisa berbahasa Prancis sedikit-sedikit. Terimakasih)," kata Robixs.
Rofik "Robixs" adalah salah satu guide di TWA Ijen. Profesi guide dilakoninya sejak 2010. Kemahirannya dalam berbahasa Prancis diperoleh secara otodidak, karena terbiasa memandu turis Prancis, yang memang mendominasi turis asing yang berkunjung ke Kawah Ijen.
Robixs pun menjadikan guide sebagai profesi utamanya. Meski tidak setiap hari dia mendapatkan pesanan jasa. "Biasanya Januari sampai Maret gini sepi, paling 3 hari sekali baru ada permintaan. Kalau pas musimnya, setiap hari saya dapat order dari 3 travel yang jadi langganan saya," ujar pria asal Desa Tamansari, Licin ini.
Para guide yang memperoleh pembekalan dari DPD Himpunan Pramuwisata ini juga dilatih berkomunikasi Bahasa Inggris. Mereka pun langsung mempraktekkan dengan sesama teman tanpa rasa canggung. "Can you explain to me about Ijen?" "Ijen is volcano with two thousand and four hundred. You can see blue fire at night"
Melihat para guide itu berinteraksi dalam bahasa asing, Bupati Anas mengaku sangat senang dan bangga. Karena para guide Gunung Ijen ini rata-rata awalnya berprofesi sebagai penambang belerang. Seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke Ijen, maka banyak para penambang belerang yang dulunya hanya mengandalkan kekuatan fisik, kini memiliki ketrampian lebih untuk pendapatannya sehari-hari,
"Ini adalah salah satu upaya kami menciptakan SDM yang berkualitas ke depan. Mereka dilatih agar lebih mahir, dan juga mendapatkan sertifikasi guide. Ini tentunya juga membuat wisatawan lebih nyaman karena guidenya resmi," ujar Anas. (humas)
Dana Desa Banyuwangi Alokasikan Belanja Bandwidth
Meningkatkan kapasitas desa, Pemkab Banyuwangi memanfaatkan dana desa untuk belanja bandwidth.
Tidak hanya digunakan untuk belanja infrastruktur fisik saja, tiap desa
akan mengalokasikan belanja infrastruktur IT tersebut untuk kemudahan
akses internet.
"Biar anggaran desa tidak hanya untuk bangun infrastruktur fisik saja, seperti plengsengan dan jalan. Namun akses internet ini juga penting untuk mempermudah warga. Internet ibarat jembatan yang menghubungkan kita dengan dunia global," kata Anas saat meninjau balai Desa Kampung Anyar, Glagah Banyuwangi Senin (21/3).
Pada 2015, Kabupaten Banyuwangi menerima anggaran program dana desa dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi sebesar Rp 59,8 miliar untuk 189 desa.
Dikatakan Bupati Anas, belanja pita lebar ini juga untuk menyokong program Smart Kampung. Program itu bertujuan untuk mengedukasi masyarakat yang tinggal di desa agar akrab dengan teknologi informasi. Lewat program ini, diharapkan infrastruktur IT yang dibangun akan mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat.
"Warga yang akan surat kependudukan tidak perlu jauh-jauh ke kota. Contohnya bila selama ini mengurus Surat Keterangan Miskin untuk pengurusan BPJS harus datang ke kantor pemda, maka dengan program ini warga cukup mengurusnya dari desa karena online," kata Bupati Anas.
Ditambahkan dia, untuk mendukung program ini balai desa pun akan dijadikan pusat aktivitas warga. balai desa sebagai pusat pembelajaran dan kebudayaan desa tersebut.
"Anak-anak yang pulang sekolah bisa les kesenian atau kursus bahasa di sini, mengerjakan PR pun di balai desa karena ada internetnya. Harapan kami, balai desa bisa berfungsi pula sebagai rumah kreatif warga," ujar Anas.
Selain meninjau Desa Kampung Anyar, Anas juga berkunjung ke Kantor Desa Tamansari yang menjadi pilot project smart kampung Kecamatan Licin. Anas ingin melihat kesiapan perangkat IT dan infrastruktur untuk menunjang peningkatan pelayanan publik dan peningkatan SDM masyarakat.
"Sebelum resmi jalan, software (perangkat lunak) dan hardware (perangkat keras) penunjang smart kampung harus kita tuntaskan. Kami ingin agar melalui jaringan teknologi informasi, warga desa bisa mempromosikan potensi wilayahnya," pungkas Anas. (humas)
"Biar anggaran desa tidak hanya untuk bangun infrastruktur fisik saja, seperti plengsengan dan jalan. Namun akses internet ini juga penting untuk mempermudah warga. Internet ibarat jembatan yang menghubungkan kita dengan dunia global," kata Anas saat meninjau balai Desa Kampung Anyar, Glagah Banyuwangi Senin (21/3).
Pada 2015, Kabupaten Banyuwangi menerima anggaran program dana desa dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi sebesar Rp 59,8 miliar untuk 189 desa.
Dikatakan Bupati Anas, belanja pita lebar ini juga untuk menyokong program Smart Kampung. Program itu bertujuan untuk mengedukasi masyarakat yang tinggal di desa agar akrab dengan teknologi informasi. Lewat program ini, diharapkan infrastruktur IT yang dibangun akan mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat.
"Warga yang akan surat kependudukan tidak perlu jauh-jauh ke kota. Contohnya bila selama ini mengurus Surat Keterangan Miskin untuk pengurusan BPJS harus datang ke kantor pemda, maka dengan program ini warga cukup mengurusnya dari desa karena online," kata Bupati Anas.
Ditambahkan dia, untuk mendukung program ini balai desa pun akan dijadikan pusat aktivitas warga. balai desa sebagai pusat pembelajaran dan kebudayaan desa tersebut.
"Anak-anak yang pulang sekolah bisa les kesenian atau kursus bahasa di sini, mengerjakan PR pun di balai desa karena ada internetnya. Harapan kami, balai desa bisa berfungsi pula sebagai rumah kreatif warga," ujar Anas.
Selain meninjau Desa Kampung Anyar, Anas juga berkunjung ke Kantor Desa Tamansari yang menjadi pilot project smart kampung Kecamatan Licin. Anas ingin melihat kesiapan perangkat IT dan infrastruktur untuk menunjang peningkatan pelayanan publik dan peningkatan SDM masyarakat.
"Sebelum resmi jalan, software (perangkat lunak) dan hardware (perangkat keras) penunjang smart kampung harus kita tuntaskan. Kami ingin agar melalui jaringan teknologi informasi, warga desa bisa mempromosikan potensi wilayahnya," pungkas Anas. (humas)
Banyuwangi Fish Market Festival-Banyuwangi Festival 2016
Sementara itu Banyuwangi Fish Market Festival yang akan diselenggarakan
pada 15 Oktober 2016 digelar di Pantai Muncar. Muncar dipilih karena
terkenal sebagai salah satu pelabuhan ikan terbesar di Indonesia.
Banyuwangi Fish Market Festival akan diselenggarakan satu hari sebelum pelaksanaan tradisi Petik Laut Muncar.
Video Ilutrasi Muncar Pelabuhan = https://www.youtube.com/watch?v=IrQ6QJLdqGA
Nantinya masyarakat termasuk wisatawan akan diajak mengenal jenis ikan yang ada termasuk berbagai olahan produk perikanan Banyuwangi yang diekspor.
"Dengan adanya Banyuwangi Fish Market Festival diharapkan bisa mengeksplorasi potensi perikanan di Banyuwangi.
Banyuwangi Fish Market Festival akan diselenggarakan satu hari sebelum pelaksanaan tradisi Petik Laut Muncar.
Video Ilutrasi Muncar Pelabuhan = https://www.youtube.com/watch?v=IrQ6QJLdqGA
Nantinya masyarakat termasuk wisatawan akan diajak mengenal jenis ikan yang ada termasuk berbagai olahan produk perikanan Banyuwangi yang diekspor.
"Dengan adanya Banyuwangi Fish Market Festival diharapkan bisa mengeksplorasi potensi perikanan di Banyuwangi.
Langganan:
Postingan (Atom)



